Ada Kamera antara Aku dan Kamu

Perempuan dan media fotografi sudah menjadi perbincangan yang cukup lawas.  Glyn Davis dalam exploring visual culture (2005) mengatakan bahwa Fotografi telah menyeruak dan menjadi sebuah gaya hidup. Bukan sekadar kemampuan merekam peristiwa atau yang diperistiwakan, namun dunia fotografi sudah merasuk dalam berbagai kepentingan, entah kepentingan bisnis ataupun hanya sekadar hobi.  Sebagai bagian dari budaya, fotografi  bersifat politis yang dimaknai secara mendalam sebagai ruang kontestasi lagi resistensi.        

Konstruktor foto (baca:fotografer) tak ubahnya seperti tukang-tukang insinyur yang tengah membangun jembatan penghubung antar dua wilayah (produsen-konsumen). Ia hadir dalam ruang budaya dan politik, dan secara nyata ia adalah bagian dari media yang berfungsi sebagai sarana penyaluran ide mengenai “politik konsep” untuk membangun identitas akan dirinya ataupun akan subjek yang dipotret.                                          

Membincang fotografi artinya menyeret segala penjuru isu kebudayaan ke dalam satu fragmen. Sebagai gaya hidup ia hadir bersama model-model, yang dalam hal ini saya rujuk ke dalam fotografi model yang menokohkan perempuan sebagai pesan.  Dalam fotografi model, perempuan adalah sebingkai tubuh yang mati namun resisten. Ia berada dalam bayang-bayang aturan kaum patriarki namun ia melawan melalui “tubuhnya”. Bagaimanapun juga, berbicara perempuan dalam serentetan bingkai foto kita tak akan bisa melepaskan dari wacana tubuh. Rumus Cantik=putih+langsing+berambut lurus adalah jaminan, atau seksi=lekuk tubuh+sorot mata+atraktif, rumus-rumus citraan yang demikian adalah ciptaan para konstruktor dalam memediakan mereka.               

Memutuskan diri untuk difoto itu artinya kita telah memberikan peluang kepada kenangan untuk mencatatnya. Bagi aktivis ruang virtual, ruang semacam facebook ini  menjadi salah satu cara bagi labuhan “hasrat” mereka. Tak jarang kita temui foto-foto perempuan –yang entah model atau hanya sekadar bergaya bak model- tak jarang mereka menampilkan pose-pose yang mengeksplor lekuk tubuh dengan tata gerak sensual yang “atraktif”. Hasil jepretan yang demikian diunggah demi mendapatkan respon atau hanya sekadar “berbagi” ilmu fotografi bagi si fotografer, yang jelas ruang tersebut telah termampatkan menjadi ruang kontestasi nilai kelelakian dan perempuan dalam sebuah frame foto. Kesensualitasan berada dalam dalih nilai art-tistik dan perempuan sebagai model pun merasa bersenang diri akan keberadaan “tubuhnya yang lain” (meminjam istilahnya barthes) dalam sebuah lembar foto yang mendulang respon akan pose-posenya.                        

Senyumnya mengembang kenes, jemarinya mulai beradu dengan papan ketik untuk membalas komen yang masuk, atau sekadar berucap “thx jempolnya”. Perempuan muda jelita tengah bersenang diri atas jepretan kawannya yang menurutnya bagus dalam membingkai tubuh dan merekam ekspresi wajahnya. Mungkin begitu yang terjadi. Saya sedang membayangkan bagaimana jika sosok Madonna hidup pada era sekarang?, saya menebak ia akan mengupload foto-fotonya yang seksi ke dalam akun Fb atau akun twiternya, Ia mungkin akan banyak menguploadnya ketimbang berstatus “alay”. Di sadari atau tidak foto tersebut telah menunjukan bahwa hubungan antara fotografer dengan objek telah menjadi dua sisi mata uang yang tak terpisahkan,  keberadaan keduanya saling mendukung untuk menghasilkan sebuah karya. Namun perlu kita sadari, bahwa dalam dunia fotografi sesungguhnya tengah terjadi ketidaksetaraan peran.                                                                    

Relasi yang terjalin antara fotografer dan objek berada dalam hubungan yang terikat  dan ketidaksetaraan itu muncul dalam praktik penciptaan karya foto. Dalam hal ini fotografer memiliki hak sepenuhnya untuk mengintervensi keadaan ataupun menyeleksi moment yang melintas. Dapat dikatakan bahwa fotografer adalah subjek bebas yang dapat memilih, menyeleksi, menempatkan realitas yang berada di hadapannya bahkan membentuk objek sehingga hanya dihasilkan satu pencitraan yang sesuai keinginannya. Dalam penciptaan foto, seorang fotografer mempunyai pengaruh kuasa yang besar kepada model yang sedang dihadapinya. Menjamurnya media telah turut memberikan ruang  (kenangan)  budaya perempuan dan laki-laki dengan korelasi ranah tontonan (visual) yang lugas, tanpa batas, dan tentu saja isu dalam hal relasi kuasa, gender, seks, dan seksualitas muncul didalamnya.                                                                                                    
Laura Mulvey dalam artikelnya “Visual Pleasure and Narrative Cinema” (1974), mengungkapkan bahwa perempuan merupakan objek tontonan untuk memenuhi hasrat laki-laki sebagai objek imajinasi serta fantasi seksual atau sebagai objek “Sensual Pleasure” laki-laki. Hasrat dalam hal ini dapat diartikan dalam tatanan visual yang diharapkan dapat meningkatkan “cita rasa visual”. Maka tak jarang laki-laki memberikan komen yang beraroma orientasi lekuk tubuh. Hal tersebut diperkuat oleh Liesbet Van Zoonen dalam bukunya “Feminist Media Studies” (1994), Liesbet mengatakan bahwa elemen utama budaya patriarkal barat adalah display perempuan sebagai tontonan untuk dilihat, ditujukan untuk tatapan khalayak (pria).                        

Jika kita mengikuti akun yang kerap memasang foto –fotografis- model maka hal yang demikian menjadi semacam produksi kekuasaan tubuh, lalu produksi kekuasaan yang terjadi kemudian adalah munculnya strategi untuk menghembuskan wacana tentang keperempuanan yang “seksi” “langsing”, dan atraktif. Lantas, dalam fotografi (model) terutama dalam jejaring sosial, siapa yang sejatinya menguasai?pasar, model atau sang fotografer? Lagi-lagi pemetaaan hubungan kekuasaan didasarkan pada kepemilikan kapital dan komposisi kapital tersebut. Merujuk pada apa yang dipaparkan oleh Bourdieu yang mencoba memetakan kapital menjadi empat jenis; kapital ekonomi, kapital budaya, kapital sosial dan kapital simbolik. Dalam keempat kapital tersebut, kapital ekonomilah yang cenderung memiliki “kemampuan” untuk menjadi terminal bagi leburnya kapital-kapital yang lain. Kapital budaya, kapital sosial ataupun kapital simbolik yang melekat pada diri “fotografi” (fotografer dan modelnya) dalam suatu kesempatan akan melebur dan bertransformasi ke dlam kapital ekonomi.    

Dalam hitungan satu….dua…tiga….maka terbukalah diafragma lalu terlepaslah rana dan tak sampai satu detik tubuh dengan pose tertentu terproses dalam sebuah kamera. Tatapan tajam, bibir yang sedikit menor dan terbuka secara cepat tercerabut dari otentitasnya dan masuk dalam ruang baru dalam tubuh yang lain, tubuh yang tak lagi otentik karena keberadaan sebuah lensa kamera. Tubuh wanita adalah modal kapital dan juga bertumpukannya kode sosial yang dimiliki oleh wanita untuk dipasarkan dalam dunia ekonomi kapitalistik saat ini. Ketika The Mind and The Soul sudah tercerabut dari seorang perempuan, maka dia hanya mempunyai sebuah tubuh yang layak untuk dijual, dan “di pertontonkan”. Tubuh menjadi titik sentral dari mesin produksi, promosi, distribusi dan konsumsi kapitalisme. Tubuh diproduksi sebagai komoditi dengan mengeksplorasi berbagai potensi hasrat dan libidonya untuk dipertukarkan sebagai komoditi ataupun nilai “jual” (Pilliang, 2004:116).                    

Teringat seorang Barthes, seorang semiolog yang necis asal perancis. Dalam “Camera Lucida” ia “bercerita”  ketika berhadapan dengan kamera, Barthes berpose. Ia membuat tubuh lain bagi dirinya, make another body. Menurutnya, akibat hal ini Ia menderita ketidakotentikan, karena diri dan citra-diri diceraikan oleh Fotografi. Ia merasa seperti menjadi hantu bagi dirinya sendiri. Bagi saya, tak ada foto yang dapat berbicara, sebagus apapun ia hanya benda mati, ia hanya selembar kenangan yang akan berjalan liar dalam alam interpretasi.

Iklan

Tag:,

One response to “Ada Kamera antara Aku dan Kamu”

  1. rumahpentaprisma says :

    Reblogged this on rumahpentaprisma and commented:

    Fotografi Perempuan Komodifikasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: