Seberkas Panopticon dalam Pas Foto

Seberapa jauh kepentingan pas foto seseorang?  Untuk urusan administrasi, pas foto adalah sebuah “wacana kepentingan” dalam artian kepentingan akan “visualisasi” kepemilikan. Ukuran sepertiga badan atas terekam tegak dengan serentetan aturan formasi visual yang harus dipatuhi. Misalnya saja, posisi tubuh tegap dengan posisi kepala lurus ke depan dengan daun telinga terlihat, selain kepentingan rekam wajah yang jelas dan formal, hal yang demikian menyangkut wacana legitimasi kepemilikan. Secara visual, wajah menjadi kekuatan formal seseorang. Tatar aturan visual yang lumrah hadir, bahkan semenjak awal berdirinya negara ini, pas foto sudah menjadi “syarat” mutlak dalam kelengkapan administrasi seseorang.

Sebagai produk visual, pas foto memang jauh dari kata estetis, ia berbentuk sesuai format “undang-undang”. Potret diri melalui pas foto adalah cara untuk menjadi bagian “kekuasaan” dan tentu saja menjadi bagian dari manusia modern. Selain itu, dapat dikatakan bahwa keberadaan pas foto adalah produk pemerintah yang digunakan sebagai sebentuk “cara” kontrol sosial dan sebagai “pendisiplinan”  warga negara. Salah satunya terkait pas foto pada KTP seseorang. Semenjak jaman Belanda, “Verklaring van Ingezetenschap, voor personen in Nederlandsch Indie geboren” yang artinya, Kartu Tanda Penduduk untuk orang yang lahir di Hindia Belanda, sudah menjadi alat kontrol lagi “pengawasan”. Sesuatu yang menarik dan perlu diperbincangkan di sini dalah perihal pas foto baiik dari sudut pandang kajian budaya maupun fotografi.

Bukan semata aturan formal belaka, namun komposisi sebuah pas foto perlu disimak sebagai bagian dari anak kebudayaan visual. Dengan komposisi yang sederhana, pas foto telah mengguratkan isyarat “tata kelola” pendisplinan tubuh. Salah satu yang bisa kita simak adalah perihal warna background. Sesuai Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2008 Pasal 20 (1) berbunyi “Dalam KTP dimuat pas photo berwarna dari penduduk yang bersangkutan, dengan ketentuan : a. Penduduk yang lahir pada tahun ganjil, latar belakang pas photo berwarna merah; atau b. Penduduk yang lahir pada tahun genap, latar belakang pas photo berwarna biru. (2) Pas photo sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berukuran 2 x 3 cm dengan ketentuan 70% tampak wajah dan dapat menggunakan jilbab”.

Dengan “terbitnya” pas foto, info personal seseorang dapat “terarsipkan”, baik secara hukum maupun secara sosial, dan  negara dalam hal ini tengah merekatkan ruang kuasanya.  Sebaliknya, masyarakat melalui pas foto secara tidak langsung mengakui kehadiran kekuasaan tersebut, dan tentu saja patuh terhadap aturan tersebut, dengan kata lain  menurut saya pas foto menjadi semacam simbol kepatuhan.

Wajah dalam selembar foto adalah persolan personal. Wajah dalam sebuah foto telah mencatatkan namanya sebagai bagian dari sejarah. Fotografer sebagai aparatus visual “bekerja” dalam rezim wacana tentang ketentuan-ketentuan yang telah ada. Kreatifitas adalah persoalan personal, secara institusional fotografer berada dalam payung aturan “instansi”. Tuntutan kreatifitas “tidak lagi” diperlukan, namun kepatuhanlah yang harus ia taati.

Pas foto dengan kelengkapan unsur-unsur formilnya adalah sebuah alat kontrol negara terhadap warganya, melalui warna background seperti telah diatur dalam undang undang, bahwa merah untuk tahun kelahiran genap dan biru untuk bertahun kelahiran ganjil. Gampangnya, pemahaman pembagian yang demikian ditujukan sebagai pendisiplinan sosial agar mudah untuk dideteksi perihal tahun kelahiran yang mengarah pada statistik. Sebagai bagian dari wacana kuasa, pemerintah hadir melalui perundang-undangan. “pendisplinan” publik melalui aturan pemerintah berjalan layaknya penjara panopticon. Panopticon adalah sebuah sistem “pendisiplinan”. Panopticon merupakan struktur yang memungkinkan “aparatus” untuk melakukan observasi secara menyeluruh dan berkelanjutan terhadap pihak-pihak tertentu, yang tentu saja memiliki posisi tidak lebih dominan.

Panopticon pada awalnya adalah konsep bangunan penjara yang dirancang oleh Jeremy Bentham pada tahun 1785. Konsep ini dirancang oleh Bentham yang memungkinkan seorang “sipir” untuk mengawasi (-opticon) semua (pan-) tahanan. Panopticon oleh Bentham dimaksudkan sebagai model penjara yang lebih murah dibandingkan penjara lain pada masanya, karena hanya membutuhkan sedikit staf, dengan menara ditengahnya.

Melalui lampu sorot yang berada di menara tersebut, maka gerak-gerik tahanan dapat diawasi. Tahanan tidak mengetahui siapa yang mengawasi dan berapa jumlahnya. Bahkan ketika tidak ada sipir penjara yang mengawasi-pun, tahanan merasa diawasi secara terus-menerus melalui menara tersebut. Dengan kata lain, pengawasan sipir penjara dapat berlangsung hanya beberapa kali saja tetapi efeknya terhadap narapidana bisa berlangsung secara terus-menerus. Menurut, Romo Moko, sapaan akrab Romo Haryatmoko, “Inilah maksud dari pengawasan yang diskontinu tetapi efeknya kontinu, Selain itu sangat efektif untuk mempertahankan kekuasaan, dalam bentuk apapun, karena yang dikuasai menginternalisasinya ke dalam alam bawah sadarnya”.

Selanjutnya, konsep panopticon berkembang ke arah  pengawasan dan pendisiplinan masyarakat. Dalam konsep ini, Kekuasaan menjadi sebuah tatapan tak berwajah (faceless gaze) yang akan terus mengawasi. Foucault menggunakan model panopticon untuk memeriksa relasi-relasi kuasa yang beroperasi dalam hampir seluruh bentuk institusi masyarakat modern. Baginya bentuk fisik bangunan tidak terlampau penting, karena yang utama adalah bagaimana kekuasaan menyebar luas dalam relasi-relasi sosial secara subtil, sehingga tidaklah mengherankan bahwa penjara-penjara sekarang makin mirip dengan pabrik, sekolah, barak militer, rumah sakit, yang semuanya juga memang mirip penjara (Foucault, 1995)

Saya melihat Pas Foto sebagai bentuk produk institusi yang dilahirkan dari praktik-praktik kuasa. Secara kontinyu, aturan perundang-undangan perihal pas foto telah merasuk dalam alam bawah sadar masyarakat. Mereka serasa “terhipnotis” untuk selalu patuh dalam aturan tersebut, sehingga jikalau menyeleweng sedikit ada rasa takut akan sanksi yang akan didapatnya. Baik sanksi dari instansi yang berkeperluan maupun sanksi berupa cemooh dari lingkungan karena warna keliru dalam menempatkan warna background. Dengan berlangsungnya pendisiplinan dalam masayarakat, pemerintah akan mendapatkan data yang mudah untuk diarsipkan, sehingga jika seaktu-waktu data diperlukan maka pelacakannyanya pun akan lebih mudah.

Sebagai bentuk kuasa atas informasi yang cenderung “dikuasai” oleh satu pihak (dominan) pas foto secara wajah juga memberi indikasi “kepatuhan”. Dalam sebuah pas foto, kita diharuskan berposisi tegak dengan telinga terlihat, dan berpenampilan rapi. Dengan pose wajah yang tersenyum datar. Ini adalah pose yang secara semiotis membawa pesan layaknyaa “tahanan” yang tengah terintervensi. Secara sadar “aktor” pas foto merasa dirinya akan menjadi “identitas” visual dari data-data yang di munculkan seperti nama, alamat, tanggal lahir, agama, hingga status perkawinan.

Fotografi adalah medium untuk menghadirkan sesuatu yang sahih dari ruang ke ruang maupun waktu ke waktu, ia secara nyata adalah sebuah representasi yang sahih terhadap keberadaan sepertiga bagian tubuh atas yang menghadap tegap ke kamera. Namun, pengakuan atas kesahihan tersebut perlu ditilik untuk dipertanyakan kembali. Sadarkah kita ketika berhadapan dengan seoarang fotografer dalam ruang bernama studio kita telah menjadi jiwa-jiwa yang lain. Hak atas tubuh telah “dirampas”, bahwa praktik memotret adalah suatu tindakan “intervensi”. Sedikit berlebihan memang, namun secara “nyata” jiwa-jiwa terpotret memang begitu adanya. Kuasa fotografer dalam lensa memberikan peluang yang mengharuskannya untuk  memilih dan “mengatur” objek. Dalam ekesekusinya, fotografer sebagai aparatus rezim wacana menjalankan tugasnya untuk menerapkan “aturan bentuk” yang menjadi bagian dari panopticon tersebut. Disadari atau tidak, demi kata formal, kita secara kontinu merasa diawasi oleh sistem. Ketakutan untuk tidak sesuai aturan membuat takut kan proses administrsai yang berbelit-belit.

Terakhir, bagi saya pas foto merupakan sebuah anak teknologi fotografi yang sederhana, namun di dalamnya penuh dengan kontestasi ideologi yang secara tak sadar dan tanpa menahu hadir secara diam-diam, pas foto juga memberikan sebuah kenangan tertentu, tergantung dimana ia berada, keberadaannya dalam KTP tentu saja akan berbedda ketika dia menempel dalam sebuah ijasah.  Bagi Barthes, sesederhana apapun sebuah foto, Ia seperti menghadirkan sebuah kebenaran, kebenaran akan sebuah kehadiran.

Iklan

Tag:, ,

2 responses to “Seberkas Panopticon dalam Pas Foto”

  1. wekiwaki says :

    Reblogged this on dan aku juga punya cerita.. and commented:
    fenomena panopticon nih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: