Balada Biduanita dalam Perayaan

Panggung nan kecil itu memang tak semegah pertunjukan musik kelas atas, atau pertunjukan grup band yang  tengah melangsungkan tour keliling kota. Kostumnya pun tak begitu glamour, tak ada jambul khatulistiwa ala Syahrini atau semacamnya. Yah..hanya busana pentas yang pas-pasan, hanya MC dan penyanyi saja yang terlihat mentereng dengan busananya. Pemain musik yang lain hanya menggenakan seragam apa adanya. Dangdut!, atau lebih dikenal dengan dangdut koplo ini memang menjadi fenomena yang menarik, terlebih lagi acara ini menjadi sebuah konsumsi penonton yang menuntut penontot untuk “turut” serta aktif salah satunya dalam bentuk nyawer.

Lampu panggung yang gemerlap beraneka warna dengan asap mengepul dari tiap pojok panggung menambah kesan makin semarak. Penonton mulai riuh  ketika seorang lelaki paruh baya dengan berpenampilan necis menuju tengah panggung dengan memegang microphone seraya berkata, yah…kita sambut penampilan dari Suci Saharani”, ditambah aksen kuat pada konsonan ‘r” dengan suara yang lantang. Lantunan suara musik dari keyboard dikombinasi dengan suara kendang mulai menghentak. Sang biduan pun naik  panggung, seorang perempuan cantik, langsing bak model dengan memakai busana super mini dan super ketat.

Seperti sudah menjadi pelabelan bagi penyanyi dangdut, penampilan mereka sudah terpatri dalam realita penonton bahwa kesan seksi dan minim harus “tersedia”. Bisa dikatakan bahwa inilah bentuk stereotipe dalam dunia panggung. Sebagai ujung tombak pertunjukan dangdut, seorang biduan dengan tubuhnya berusaha menarik penonton yang didominasi kaum lelaki untuk tetap bertahan sampai pertunjukan selesai dan tentu saja sawerannya pun diharapkan akan terus mengalir deras.

Musik intro masih mengalun pelan, namun penonton sepertinya sudah tak sabar untuk memulai berjoget. Sang biduan pun menyapa penonton dengan nada lantang nan kenes. Keriuhan penonton semakin menjadi-jadi, ketika sang biduan mulai bergoyang. Musik masih mengalun pelan. Diawali dengan intro yang cukup panjang mengiringi “orasi” sang biduan untuk mengajak penontonnya bergoyang. Iringan suara seruling, kendang dan gitar mengalun riuh ditambah suara genit sang biduan. Lelaki yang bertugas sebagai M.C pun tak mau kalah dengan melontarkan kata-kata genit pula.

Tampaknya hal seperti ini sudah menjadi  semacam simbiosis mutualisme, penonton dan yang ditonton menjadi sebuah kesinambungan yang alami. Bahwasanya keberadaan penonton dalam dangdut berfungsi melancarkan  pertunjukan sebagai sebuah tontonan. Selain itu dengan suasana yang cair, tanpa batas yang jelas, penonton bisa ikut bergoyang di panggung bersama sang biduan.

Dangdut memang sedikit identik dengan masyarakat pinggiran. Namun dangdut yang acap kali mentas dari panggung ke panggung, dari hajatan ke hajatan, bukanlah dangdut yang alami, dalam artian dangdut sebagai musik joget telah mengalami pergeseran, terutama yang berada dalam tataran panggung, atau yang dikenal dengan sebutan dangdut koplo, atau lebih kerennya dangdut house music.  Sebut saja Sanjaya, Monata, Sera, Palapa atau yang lain, semuanya mengusung motif yang hampir sama, lagu remix, dan tentu saja dengan biduanita yang agresif.

Dangdut, perayaan, dan eksotisme.           

Sedikit menyitir apa yang dikatakan oleh Mulvey, bahwasanya sosok perempuan  bukanlah pencipta makna tapi pembawa makna, dalam hal ini sang biduanita memiliki posisi dalam peranan yang dibentuk oleh laki-laki. Laura Mulvey dalam tulisannya “Visual Pleasure and Narrative Cinema” (1974), mengungkapkan bahwa perempuan merupakan objek tontonan untuk memenuhi hasrat laki-laki sebagai objek imajinasi serta fantasi seksual atau sebagai objek “Sensual Pleasure” laki-laki. Walaupun demikian, keberadaan perempuan tidak dapat dihapuskan dari sistem masyarakat patriarkal. Untuk dapat disebut sebagai pihak yang dominan, laki-laki membutuhkan perempuan untuk tetap melanggengkan kuasa kelelakiannya. Laki-laki dapat mewujudkan semua fantasi dan obsesinya dengan adanya perempuan, sementara perempuan masih terbelenggu dengan statusnya sebagai pembawa makna.

Dalam ranah pertunjukan, tubuh perempuan (biduanita) menjadi berada pada posisi yang lebih startegis secara ekonomi, politik dan budaya,hal ini menjadikan perempuan berada pada posisi yang secara tidak langsungberpotensi untuk “diatur”, mungkin bisa dibilang sebagai bentuk komodifikasi pekerja. Tuntutan manggung, dan tuntutan penampilan membuatnya semakin berbalut eksotisme. Relasi seksual berkerja dalam sistem pemaknaan bahwa selama ini ia didikte oleh pemahaman dari kacamata laki-laki atau nilai-nilai patriakal, seolah-olah mereka berpenampilan hanya untuk lelaki, hanya untuk memenuhi hasrat mereka sebagai penonton. Eksistensi tubuh perempuan menjadi sesuatu yang “dipentingkan” secara sosial dan ekonomi. Jelasnya kepentingan panggung, penghajat dan penyawer yang di dominsai laki-laki, dan perempuan yang berperan sebagia biduanita harus mengikuti selera mereka kalau inggin tetap mentas dan laku,menjadikan mereka sebuah tubuh yang tersistem secara ekonomi.

Bisa dikatakan perempuan sebagai biduanita adalah sosok yang cukup menggebrak, sama halnya  fenomena Madonna pada kisaran ahun 1980-an. Dunia entertainment terhentak, seolah mendapatkan momentum baru ketika seorang Madonna tampil sebagai artis dengan genre yang melawan pakem. Sebagai seorang penyanyi dan artis, Madonna tampil dengan simbol-simbol tak lazim. Salah satunya melaui lirik-lirik lagunya yang hampir selalu nyerempet-nyerempet pada ranah erotisme seksual. Lebih dari itu, ia pun dengan penuh percaya diri tampil dalam berbagai pose yang bisa dibilang erotis.

Melalui keberaniannya tersebut, alhasil nama Madonna menjadi simbol baru dalam jagat hiburan. Itulah tonggak ketika “ketelanjangan” tubuh perempuan menjadi sebuah ironi  yang selalu diasosiakan dengan seks, dan hal tersebut mulai mengisi ruang-ruang publik yang bernama layar, mula-mula layar lebar kemudian merembet ke layar kaca. Salah satu video musik awal madonna, Lucky star, menampilkan madonna sebagai objek seks yang sangat seksi, penari energik, dan trend setter fesyen yang inovatif. Sejalan dengan madonna, sosok biduan dangdut seperti Suci saharani, Mela berbie, Lina geboy, Mela Anjani, atau Ratna  antika juga hampir bisa dikatakan memiliki corak yang sama, bahkan dalam hal ini bisa dikatakan lebih menggebarak lagi ketika melibatkan penonton secara langsung di panggung.

Ritus saweran menjadi hal yang lumrah, sang biduan dengan politik goyangannya berhasil mendapatkan tambahan lembaran rupiah, meskipun lembaran-lembaran tersebut akan lebih banyak masuk ke kantong sang pemilik O.M (Orkes Musik) yang menaungi mereka. Kelelakian mengrubungi ia (sang biduan) entah sebagai penonton yang melontarkan kata-kata sedikit kotor atau sebagai nyawer yang dengan bebasnya dipanggung bergoyang dan menghujani biduan dengan lembaran uang.

Industri hiburan, baik dalam level pinggiran maupun kelas atas menyebabkan hukum permintaan dan penawaran menjadi satu-satunya pertimbangan logis namun instan.  Arus menuju komodifikasi tubuh menjadi semakin nyata. Eksploitasi tubuh perempuan! Mungkin ini menjadi komentar yang muncul. Komodifikasi menjadi  suatu bagian dari transformasi yang pada mulanya terbebas atau tidak berhubungan dengan hal-hal yang diperdagangkan, dan berubah menjadi hubungan yang sifatnya mencari keutungan, dengan berbagai pemanfaatn potensi yang ada, termasuk tubuh.

Melihat fenomena yang ada,  seorang biduanita terkesan meletakan prioritas tubuh menjadi hal yang utama jika dibandingkan suara. Bisa kita lihat bagaimana cara mereka berdandan dan bersuara genit yang “nyentrik” ketimbang ekplorasi kemampuan vokal. Tak pelak lagi bahwasanya dalam industri budaya tubuh perempuan menjadi ajang tarik menarik dan kontestasi banyak kepentingan. Tiada yang lebih kompleks daripada tubuh perempuan. Bagi perempuan sendiri, tubuhnya adalah daya tarik dan sekaligus sumber kekuasaan yang strategis. Kuasa atas pasar dan tentu saja kuasa bagi penontonnya. Dangdut, melalui biduanitanya menjadi daya tarik tersendiri melalui kualitas bagian tubuh perempuan yang menjadi modal dalam dunia pertunjukan.

Selain menyanyi dan berjoget, praktik nyawer semakin menguatkan bahwa penonton (laki-laki) semakin terhipnotis melalui perantara tubuh, raupan laba pun bertambah dari sektor nyawer.

Sensualitas, erotisme dan komodifikasi tubuh  adalah menjadi sebuah trend dan andalan dalam budaya massa, dan perlu dingat bahwa budaya massa adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari budaya industri. Peran kapitalisme di dalamnya  mengharuskan proses “pe-massa-an” atau komodifikasi segala sesuatu (termasuk tubuh), agar sebuah industri dapat terus berlangsung, bisa dibayangkan bagaimana sebuah industri-sebut saja- O.M Sanjaya, Sera atau Palapa tanpa biduanita, kemungkinan untuk ditinggalkan penonton pun akan lebih besar. Tak bisa disangkal bahwa penggunaan “tubuh perempuan” dalam pertunjukan dangdut bisa menjadi daya tarik guna melariskan suatu kelompok, dari sudut pandang tertentu tak lain dan tak bukan adalah sebuah bentuk komodifikasi tubuh.

Madonna dan para biduanita adalah contoh figur ketika komodifikasi tubuh menemukan ruang pemadatannya. Madona mampu membius dan menggoda pengagumnya tidak hanya dengan suara dan wajahnya. Selain itu, Madonna dengan kepiawaian menggunakan media telah berhasil menjadikan dirinya sebagai “icon pop”. Dalam konteks ini Madonna berhasil menggunakan pendekatan ekonomi politik media dalam mengangkat popularitas bagi dirinya pada satu sisi dan sisi lain media menggunakan ‘icon pop’ sebagai komoditi media, begitu pula dengan para biduanita. Meskipun hanya dari panggung ke panggung, perayaan ke perayaan, dan VCD atau DVD pementasaan mereka di jual bebas di emperan tanpa royalti yang mengalir ke mereka.

Sedikit mengutip Anthony Synnott (2003 : 11) yang mengemukakan bahwa tubuh manusia dengan bagian-bagiannya dimuati dengan atribut kultural, publik dan privat, positif dan negatif, politik, ekonomi, seksual, moral dan seringkali kontroversial. Nah!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: