“di-pupus-kannya patriarki”: mencoba melihat (kembali) FTV Badik Titipan Ayah

Gambar

Perairan Bira membentang luas dengan kapal-kapal berlabuh di tepiannya. Sepasang muda-mudi berdiri di antaranya. Pandangannya saling terpagut jauh, membelakangi. Berat lamunan seperti tengah membawa karang sampai ke Selayar. Ialah Andi Tenri (Tika Bravani)  anak dari Karaeng Tiro (Aspar Paturusi) dan Firman (Guntara Hidayat).

Malam sudah begitu larut, Andi Tenri masih disibukan dengan kegelisahannya. Tetta dan Amma’nya sudah lelap tertidur. Perlahan ia beranjak dari kamar, pelan-pelan ia tarik gagang pintu, dengan amat perlahan ia turuni tangga rumahnya. Sesampainya di jalanan kecil di kampungnya, telpon Andi Tenri berdering, rupanya dari Firman. Kekasihnya.

“Saya sudah di jalan”, jawabnya singkat.

Tak beberapa lama, Firman dengan sepeda motornya menghampiri Tenri.

“kenapa lama?”,

“saya harus pastikan semuanya sudah tidur”, begitu ia menjelaskan.

Firman nampak ragu,

“Tenri, kau benar-benar yakin ingin melakukan ini”

“kita tidak punya pilihan lain”, timpalnya

“kita bisa jelaskan pada Karaeng Tiro tentang keadaanmu”

“Tidak, kita sudah berbuat salah, kalau Tetta tau hal ini, dia pasti lebih marah”, Jawab Tenri

“Silariang ini punya resiko besar!, kau siap?”

“Bukan hanya saya saja yang harus siap, tapi kita, apa kau siap?” Begitu Tenri menjawab pertanyaan Firman, seolah Tenri ingin meyakinkan  kepada Firman akan pilihannya tersebut. Tanpa berkata-kata lagi, Firman menjalankan sepeda motornya. Mereka meninggalkan Bira menuju Makassar.

Ini adalah frame awal tentang kisah Badik Titipan Ayah, sebuah FTV “20 Wajah Indonesia” yang coba mengangkat budaya bugis. Dalam ranah tradisi kebudayaan -adat-, hubungan asmara memiliki aturan yang cukup “pelik”, pelik dalam artian ia adalah lebih dari sekadar hubungan hati, ia adalah sebentuk modal sosial, percintaan hanya sebagai dalih dalam pelanggengan hubungan sosial. Saham kebudayaan dalam “frame” adat yang masih kental memiliki andil dalam hal ini. Selain faktor tersebut, konflik orang tua yang berujung pada harga diri keluarga juga menentukan dengan siapa si anak “diperbolehkan” menjalin asmara. Saya pikir, saham-saham kebudayaan asmara-pernikahan di nusantara ini kurang lebih “berlaku” sama. Di beberapa tempat yang masih kental dengan nilai-nilai adat, bahwa perjodohan, penentuan pasangan sudah menjadi “format” adat yang harus dipatuhi.

Shubuh telah tiba. Amma’ mengetuk pintu kamar Tenri berkali-kali untuk membangunkan sembahyang shubuh, namun begitu terkejutnya Amma’ (Widyawati) ketika menemukan sepucuk surat di kamar Tenri, begini bunyi suratnya:

“Tetta dan Amma’ tercinta, Tenri mohon maaf kalau selama ini membuat susah Tetta dan Amma. Apalagi sekarang Tenri harus melakukan Silariang bersama  Firman. Sebenarnya Tenri dan Firman tidak ingin melakukan ini…Tapi setelah menjajaki beberapa kemungkinan dan kelihatannya Tetta tak akan pernah setuju, kami merasa tidak ada jalan lain yang bisa diambil lagi untuk melunakkan hati Tetta…Oya Amma’ mohon maaf sekali lagi karena Tenri juga sedang hamil. Bukan karena Firman yang membujuk, tapi atas keinginan Tenri sendiri  karena tadinya Tenri pikir bisa meluluhkan hati Amma dan Tetta karena lahirnya seorang cucu”

Posisi Tenri memang “Subaltern”, ia tak dapat berbuat apa-apa, ia tak punya kuasa. Setelah sebelumnya ia berusaha merayu dan mencari cara agar hubungannya dengan firman direstui. Akhirnya Ia memilih pilihan: Silariang!. “taktik” hamil ditempuh sebagai respon yang cukup ekstrim atas penolakan keluarga Tenri. Kehamilan Tenri bukanlah sebuah “kecelakaan” tapi karena jalan yang secara sadar diambil oleh pihak perempuan (Tenri), Tenri yang meminta Firman untuk melakukan hal tersebut. Perubahan dari “subjek ke objek” yang dilakukan Tenri nantinya akan melahirkan konflik yang berkepanjangan.

Sabiruddin dalam tesisnya yang membahas pemaknaan silariang mengutarakan bahwa silariang merupakan perkawinan yang dilakukan tanpa melalui proses adat yang berlaku dalam masyarakat. Bagi pelakunya akan mendapatkan sanksi adat. Silariang merupakan fenomena budaya yang paling sentimental dan sering mengakibatkan perselisihan dan bahkan pembunuhan bagi orang yang terlibat di dalamnya. Silariang berhubungan erat dengan Siri. Bagi orang bugis, Siri adalah hal yang sangat penting. Sejauh mana mereka dipandang adalah sejauh mana mereka menegakan siri’. Mereka memiliki konsep siri’ yang dijadikan sebagai pedoman hidup. Secara sederhana, siri’ didefinisikan sebagai harga diri.

Apa yang terjadi ketika sebuah keluarga merasa harga dirinya dilecehkan?dicemarkan?maka amarahlah yang muncul, seperti yang dialami oleh Tetta-nya Andi Tenri. Dengan menggebu-gebu ia menghubungi Andi Aso (Reza Rahardian), kakak Andi Tenri.

Tetta : Aso!

Aso    : ya, ada apa Tetta?

Tetta : Pulang sekarang!

Aso    : pulang?

Tetta : Langsung ke terminal sekarang, kau harus ada di rumah secepatnya

Aso    : Tapi saya sedang sibuk, Tetta. Menyelesaikan skripsi.

Tetta : Lupakan!!, kau harus pulang sekarang!

Aso    : kenapa saya harus pulang sekarang Tetta?, kenapa mendadak sekali? Tetta sakit kah?

Tetta : Andiknu, lari dari rumah.

Aso    : Tenri?

Tetta : Silariiaaang!!

Begitu pentingnya harga diri sebuah keluarga, pendidikan yang pada awalnya berada pada posisi untuk melahirkan harga diri yang lain dan untuk “melahirkan” kelas pada ujungnya terkalahkan pada faktor lain yang lebih penting. Siri’.

Seorang teman keturunan bugis pernah bercerita bahwa salah satu upaya menegakkan siri’ adalah melalui kekerasan. Badik menjadi “alat” dalam penegakan siri’, Badik menjadi simbol kekuatan adat, simbol hadirnya penyelesaian persoalan adat, seperti yang terlihat dalam  judul film televisi tersebut. Badik adalah sebuah benda tajam yang terbuat dari besi dan merupakan alat tradisional di Bugis-Makassar. Badik dan kekerasan sering menjadi pilihan dalam menyelesaikan persoalan termasuk dalam kasus silariang. Dalam praktiknya Badik masih menjadi simbol kekuatan adat dalam penyelesaian masalah, dan badik menjadi simbol-simbol patriarki. Melalui tangan lelaki,  badik di hunus sebagai tanda pemberontakan terhadap tercemarnya harga diri.

Pernikahan adalah sebuah praktik kebudayaan yang di dalamnya memuat ruang-ruang  kontestasi. Relasi kuasa nampak jelas didalamnya. Bagaimana pembentukan kapital ekonomi selalu diawali oleh kapital budaya, maupun kapital sosial. Saya coba kutip dari Tesis dengan tema yang setipe, punya seorag kawan bernama Sabiruddin, Birgitt Röttger-Rössler (2008) dalam hasil penelitian etnografi yang berlokasi di Makassar dengan topik Voiced Intimacies: Verbalized Experiences Of Love And Sexuality In An Indonesian Society. Secara umum, penelitian Bergett lebih memfokuskan pada ritual pernikahan sampai dan melihat posisi gender dalam hubungan suami-istri dengan dasar pengetahuan budaya dan ritus lainnya.

Rössler memetakan dua model pernikahan yang ada di Makassar, yakni pernikahan bentuk normatif dan dianggap benar yaitu perjodohan (arranged merriages). Pernikahan ini dianggap sangat penting karena menentukan pertalian keluarga dalam istilah status sosial-politik, ekonomi, dan juga menentukan wibawa keluarga. Oleh karena itu, hal yang pertama kali diperhatikan dalam pernikahan bukan interakasi mempelai melainkan disusun dan direncanakan oleh keluarga. Pernikahan model ini tidak hanya berfokus pada masalah ekonomi dan status sosial melainkan  kecocokan masa depan, sikap, value, dan emosi yang baik. Kategorisasi yang kedua adalah pernikahan yang mengakibatkan harga diri keluarga terancam yang dia sebut self-made marriage.

Pernikahan normal dikenal ritual budaya sunrang (harta yang kepemilikannya dipindah-tangankan dari pihak laki-laki kepada pihak/mempelai perempuan). Rössler menyatakan bahwa ritual tersebut sebagai bentuk antisipasi jika dalam perjalanan rumah tangga berakhir baik itu karena fenomena cerai ataupun karena sang suami meninggal. Silariang sebagai salah satu bentuk pernikahan menjadi pilihan sebagai strategi dalam sebuah hubungan. Silariang biasanya sebagai bentuk strategi dan usaha dalam keadaan pengambilan keputusan yang sifatnya disengaja ditempuh.

Perempuan-perempuan dalam BTA (Tenri dan Amma’) memiliki peranan yang sangat penting, meskipun ini kasusistik, tapi sangat menarik untuk disimak. Bagaimana sosok tenri yang memutuskan untuk mengambil langkah silariang. Ia sadar bahwa keputusannya adalah melawan nilai-nilai sosial yang ada, dan dia tahu secara pasti bahwa Badiklah yang akan menghukumnya. Bahwa kakak laki-lakinyalah yang akan menghunuskan Badik untuk “membayar” siri’ yang telah ia lecehkan. Tenri terhegemoni oleh keadaaan yang serba mengikatnya, namun di sisi lain justru Aso dan keluarganyalah yang menjadi pihak tersubordinasi karena keadaan yang diciptakan Tenri.

Konflik terus berlangsung hingga Tenri melahirkan. Di sisi lain, Karaeng Tiro (Tetta dari Tenri) tengah sakit. Hingga di suatu pagi, ia mengalami serangan jantung karena tak kuasa menahan amarah atas ulah tetangganya yang menanyakan keberadaan Tenri. Karaeng Tiro pun meninggal. Suasana begitu sentimentil karena di hari itu juga Tenri, Firman dan anaknya pulang ke rumah. Tenri ingin melihat Tettanya untuk terakhir kali. Aso kemudian berdiri mencegahnya, lalu di hunusnya badik pemberian ayahnya. Badik ia hunus tepat di jantung Tenri yang tengah menggendong anaknya yang baru saja ia lahirkan.

“Berani kau datang kesini”, bentak Aso.

“Sungguh, saya tahu kami datang kemari, saya, suami saya, dan anak saya ini, akan menghadapi resiko yang sangat tidak kecil, tolong ijinkan saya untuk melihat Tetta yang terakhir kalinya, sebelum saya mati, firman mati dan kemenakanmu ini juga mati, Daeng Aso!

“berani kau menggertaku, Tenri!”, timpal Aso, dengan badik masih diarahkan ke dada Tenri

“kau tahu hukuman apa bagi mereka yang melakukan silariang?, si Firman harus bertanggung jawab!, kematian Tetta akibat sikap pengecutnya, dia bukan laki-laki seperti yang ku kira” lanjut Aso

“tidak, aku tidak sedang menggertakmu!

“Mundur! Mundur kau Tenri!, Teriak Daeng Aso dengan nada tinggi

Di sisi lain, Daeng Limpo yang merupakan kerabat dekat dari Karaeng Tiro turut terpancing emosinya “Badik!, kalau sudah tercabut pantang ia kembali masuk ke sarungnya sebelum melakukan tugasnya, Daeng Aso!, jangan kecewakan permintaan terakhir Tettamu, ayo! Ayoo! Tunggu apalagi!, begitu ucapnya.

Kondisi semakin tak terkendali. Di balik kerumunan orang-orang, muncul Amma’ dengan mata  masih begitu sembab,

“Tunggu!”, dengar Amma’…! Aso, Tenri, sebentar lagi amma’ mau menguburkan Tettamu, apa kalian pikir amma sanggup menjalani hidup jika amma hari ini juga harus menguburkan anak, menantu dan cucuku?”. Semua terdiam, tangis dari amma semakin menjadi.

Lalu kemudian, Amma menggampiri jenasah Tettanya, ia berkata

“tetta,  seumur hidup perempuan lemah ini selalu mengabdi kepadamu, berbakti kepadamu, mengaminkan apa yang Tetta lakukan, sebagai imam keluarga, tanpa ada keberatan tiada juga sebutir penolakan. Apa yang Tetta inginkan aku lakukan. Tapi sekarang ini, Tetta. Untuk pertama kalinya perempuan lemah yang sudah memberimu dua biji mata bagi  kehidupanmu, meminta dengan sangat. Memohonmu, agar bisa mengikhlaskan semu yang telah terjadi, Tetta…. kau marah Tetta? Aku terima. Tapi apa artinya hidup jika benci yang menjadi raja, Tetta. Aku tak puas bisa membuat darah tumpah dan nyawa lepas dari orang yang kita benci, apakah perasaaan itu yang akan kita rawat dan di bawa sampai mati? dengan rasa cinta kita yang sudah 25 tahun lebih kita dekap bersama, biar hanya ada cinta yang bersemayam di rumah ini, di hati anak-anakmu. Tenri anak kita, biji matamu yang kau sayangi sudah melakukan kesalahan terbesar, tapi apakah kita sebagai orang tua tidak mempunyai andil dalam memupuk dan membesarkan kesaahan itu?, selama aku hidup dan tinggal di rumah ini tidak akan kebencian bertahta di hati, bahkan setitik. Karena itu dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyanyang aku nyatakan seluruh perselisihan ini usai di sini! Aku mohon maaf Tetta karena kehendakmu tidak lagi ku patuhi, semoga engkau berbaghia di alamu sekarang, kami yang masih hidup ini akan selalu menjaga cinta kepadamu, dengan doa-doa kami.

Monolog panjang amma’ tersebut meluruhkan segala emosi yang sempat hadir, semuanya terdiam, Tenri menangis, Aso, pun demikian. Bahkan Limpo yang awalnya meledak-ledak hanya tertunduk lemas, air matanya menetes haru.

Kisah ini mencoba menghadirkan negosiasi terhadap fenomena silariang. Sebagai bagian dari media, film memiliki “pola-pola resistensi” sehingga dari pola inilah kemenarikan kontsruksi dapat muncul.  Secara kekinian, titik tekan utamanya adalah bagaimana masyarakat seharusnya merespon fenomena silariang. Hal tersebut tergambar dalam adegan terakhir, di saat semua emosi lebur dalam kata-kata amma’.

Elizabeth Lutters (2010) memberikan gambaran bahwa cerita FTV umumnya mengahadirkan narasi konflik baik dalam bentuk cerita film, sinetron, telesinema, serial  lepas, termasuk FTV. Misalnya Lutters mencontohkan grafik cerita yang diawali dengan sebuah teaser (gebrakan di depan), konflik, klimaks, dan tamat.

“dimatikanya” sosok Tetta (karaeng tiro) sebelum konflik berakhir seperti sedang tengah ingin”membunuh” jala-jala patriarki dengan segala penyelesaian berdarah. Daeng Tiro yang diceritakan dari awal memegang prinsip adat dan dia berupaya agar Firman dibunuh tanpa ada negosiasi, “sengaja” dimatikan agar terjadi negosiasi. Mungkin, jika Daeng Tiro tetap hidup hingga kembalinya Tenri, kisah akan gampang ditebak, yakni, terbunuhnya Firman dengan badik menancap di dadanya.

Jaring Patriarki dan kekerasan memang kental dalam kasus-kasus adat semacam ini. Dengan matinya Daeng Tiro artinya pupusnya nilai-nilai patriarki dan “penyimbolan” badik sebagai penyelesaian masalah siri’ pun berakhir, dan jalan mulus bagi perempuan kedua (amma’) untuk bersuara, setelah perempuan pertama (Tenri) membuka konflik. Amma’ yang sedari awal cerita bersikap “ambivalen” mendukung sikap “kekerasan” suaminya, namun juga membela perasaan anaknya, akhirnya melapangkan dadanya untuk meminta maaf atas “norma adat” dan benar-benar lebih berada pada posisi bagaimana layaknya seorang amma’.

Iklan

4 responses to ““di-pupus-kannya patriarki”: mencoba melihat (kembali) FTV Badik Titipan Ayah”

  1. johanesjonaz says :

    kamu kuliah jurusan apa sih? sosiologi atau sastra? kok pinter gini?

  2. ranselhitam says :

    Malah kon moco makalah. Otakku wis males moco2 ngene lik hahahahaha #dikeplak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: