Fotografi dan Cyber Culture hingga Cyber Orgasm dalam Desa global

Fotografi telah meletakan dirinya pada salah satu bagian budaya populer. Di berbagai cabang, ia hadir sebagai wujud eksistensi politis dan juga etis. Sejak awal masuknya fotografi ke nusantara ia sudah “menjelma” menjadi isyarat akan dokumentasi “politis”.

Jauh sebelum fotografi begitu masif dengan ragamnya, sekitar tahun 1841 fotografi sudah masuk ke nusantara dan dibawa oleh seoarang pegawai kesehatan Belanda bernama Jurrian Munich. Ia mendapat “mandat” dari Kementerian Kolonial untuk mengabadikan tanaman serta kondisi alam nusantara, hal ini dilakukan untuk memperoleh informasi secara visual tentang situasi alam Indonesia. Saat itu ia “bersenjatakan” Dauguerreotype, kamera terbaru yang sudah tergolong canggih pada waktu itu. Kamera menjadi bagian teknologi modern yang dipakai Pemerintah Belanda untuk menjalankan kebijakan barunya. Artinya, kamera menjalankan fungsinya sebagai keberadaan kelas dan juga “alat kuasa”. Jika pada awal kedatanganya kamera hadir sebagai simbol kuasa sosial, maka begitu pula pada saat ini. Bedanya, sekarang simbol kuasa sosial tersebut merujuk pada sarana eksistensi diri dan pengakuan secara sosial bahwa diri subjek (pemilik kamera) patut untuk mendapat sematan sebagai “fotografer”.

Fotografi, fotografer, dan galeri memiliki keterikatan secara emosional untuk mendapatkan predikat “kehormatan”. Mengingat, dalam dunianya, fotografi adalah modal sosial. Dalam artian ia modal dalam menjalankan roda sosial dari para agen-agen kapital (budaya, simbolik, sosial, ekonomi). Galeri foto yang pada awalnya berbentuk sebidang ruang dengan dinding penuh dengan figura foto yang bisa disaksikan secara “terbatas”. Kini era ruang “cyber” telah memberikan penawaran baru. Ukuran “kehormatan” seorang fotografer tidak lagi terpaku pada keberadaan foto pada sebuah galeri tertentu (lagi). Cyber space pelan-pelan telah memupuskannya. Sejalan dengan itu, cyber space membidani melahirkan cyber culture. Cyber culture memberikan modal virtual kepada para “jamaah”nya. Modal virtual menjadi semacam modal sosial dalam dunia riil, keduanya dapat saling melengkapi. Seseorang yang memiliki modal sosial ketika memasuki ruang virtual, maka modal virtual pun akan tumbuh sejalan, begitu pula sebaliknya. Dengan catatan data-data digital yang ia tampilkan memiliki kebenaran yang dapat dirujuk pada data riil.

Cyberculture adalah sebuah fenomena baru. Seperti yang diungkapkan oleh Mark Soluka (2000) bahwa cyberculture menawarkan “kesadaran pascaruang”, di mana seluruh aktivitas kebudayaannya dilakukan dalam dunia maya yang tanpa batas. Jika mengacu pada penanggalan, maka tahun 1980 menjadi awal perkenalan cyberspace. Lalu, pada tahun yang sama cyberculture turut muncul ke permukaan, namun baru mulai terasa fenomenal dan ramai dibicarakan setelah Sherry Turkle membahasnya dalam bukunya yang berjudul  fenomenal Life on the Screen: Identity in the Age of the Internet (1997). Melalui pisau cultural studies, Turkle menganalisis hubungan antara manusia, komputer, dan kepribadian.

Situs (fotografi) online melibatkan manusia dengan alat bernama komputer dan keduanya memiliki keterikatan untuk melahirkan kepribadian baru. Ada berapa banyak situs online yang bernafaskan fotografi? jawabnya banyak. Mereka melibatkan masa yang tidak sedikit untuk membangun ruang galeri online, lengkap dengan serba-serbi dan pernak-perniknya. Tercatat ribuan member. Galeri-galeri online dipajang per kategori. Keintimian terbangun didalamnya, proses negosiasi antara produsen dan konsumen lahir melalui fitur-fitur, seperti keberadaan “like”, kolom komentar dsb., Hal semacam itu jarang kita temui dalam galeri-galeri seni secara riil (non virtual). Inilah yang kemudian memiliki kecenderungan untuk melahirkan “kondisi” semacam Technophilia, yang biasanya menjadi pendorong utama untuk mencintai dunia cyber dan tentu saja berdampak pada kondisi psikologi seseorang untuk selalu “update”.

Bourdieu dalam “Photography: A. Middle-brow Art. Cambridge, Polity (1990) pernah mencatat perihal “galeri” dan fotografi, : bahwa fotografi sebagai praksis atau sebagai karya budaya tampak menjadi sarana pemahaman, dalam ekspresi paling autentik, atas estetika (dan etika) kelompok atau kelas berbeda dan khususnya “estetika” populer yang dapat dimanisfestasikan di dalamnya.  Baginya fotografi berfungsi untuk mengungkapkan hubungan ekuivokal antara kelompok. Bourdieu pernah mencoba melakukan analisis atas beberapa pengguna kamera; orang desa, pekerja pabrik dan yang terakhir adalah kelompok fotografi di Lille, dari hasil analisisnya menunjukan bahwa determinisme kelas- melalui mediasi “simbolisme kelompok dan praksis individu-mengkonstruksikan apa yang layak difoto, subjek apa saja yang layak diterima.

Apa yang dilakukan oleh Bourdieu adalah analisis fotografi dalam lingkup ruang non virtual. Lalu bagaimana ketika fotografi berada pada ruang cyber? Kelayakan dan subjek yang seperti disebutkan oleh Bourdieu tidak sepenuhnya berlaku lagi ketika memasuki ruang cyber. Cyber space dengan sendirinya “menyeleksi” ruang-ruang mandiri yang se-ide dengan foto tersebut. Tidak perlu kurator untuk menerbitkan dalam sebuah galeri, karena yang ada hanyalah keputusan pribadi untuk tunduk pada aturan “cyber” dan keberanian untuk tampil. Persoalan rating bisa menyusul kemudian. Tentu saja dengan negosiasi dan diskusi-diskui yang terbangun di dalamnya, semakin banyaknya diskusi yang terekam maka ia akan menjadi pembicaraan banyak orang. Dan pengikutnya pun akan lahir. Begitu seterusnya.

Banyak fotografer mencatatkan namanya via virtual, dengan “banderol” ribuan like atau ratusan share, ia lebih cepat dikenal dibandingkan mereka yang memampang karyanya via cetak. Semua member dalam komunitas ruang cyber saling berlomba untuk menarik perhatian member yang lain. Berusaha menghadirkan foto yang “ciamik”, yang lain dari yang lain. Atau menawarkan konsep yang baru. Foto mereka bebas diunduh siapa saja, siapapun bisa mendapatkan untuk kembali dibagikan ke-teman yang lain. Hal-hal semacam inilah yang tidak akan didapatkan dalam “galeri pameran” non virtual. Kepuasan seorang fotografer akan sampai puncaknya ketika galeri pribadinya mendapatkan pengakuan dari para pengunjung, ia seperti tengah mengalai “cyberorgasm”, kepuasan yang di dapat melalui ruang cyber. Selanjutnya, modal simbolik secara virtual melekat pada dirinya.

Bukan hanya di website khusus fotografi saja, akun-akun pribadi macam facebook, twitter, instagram, ataupun blog pun ada. Di berbagai ruang, fotografi “menghadirkan” dirinya sebagai simbol-simbol sosial. Semenjak jaring-jaring internet lahir, maka secara perlahan, jiwa sosial beserta “keintimannya” mulai masuk dan membaiat dirinya sebagai jamaah dunia cyber. Dalam ruang cyber, siapapun bisa melancarkan kritik. Pupusnya kondisi tatap muka membuat kritik mengalir tanpa “terbebani” kepemilikan “modal” sebelumnya. Diskusi-diskusi karya akan senantiasa berjalan, entah melibatkan si empunya karya ataupun tidak.

Komunitas-komunitas foto “melanggengkan” namanya di bawah legitimasi ruang yang mereka ciptakan. Entah ruang pribadi seperti facebook, instagram, blog, ataupun ia menjadi bagian dari komunitas foto online.  Foto adalah produk visual yang masuk secara masif. Ia lebih dari sekadar etis, namun juga politis. Etis dalam artian mengikuti hukum-hukum pasar, dan politis adalah sebagai perpanjangan ide ataupun gagasan untuk kepentingan tertentu. Cyber space kemudian menjelma menjadi ruang mesin-mesin pelepasan hasrat seseorang untuk diakui, serta mendapatkan popularitas. Mengutip apa yang dikatakan oleh Pilliang (2004) bahwa cyber space pada hakikatnya adalah dunia citra, akan tetapi citra dalam pengertian khusus, yaitu yang terbentuk oleh data-data digital, yang memungkinkan setiap orang tidak hanya, dapat melihat, seperti halnya foto, akan tetapi dapat masuk, dapat hidup, dapat berinteraksi dengan data tersebut.

Cyber space membuka ragam kemungkinan tentang situasi perihal tanda yang tidak sama sekali memiliki hubungan alamiah dengan realitas. Dalam hal ini tanda-tanda yang terbangun adalah sebuah proyek pribadi, produksi secara pribadi dan teruntuk dirinya sendiri, meskipun memiliki keterhubungan dengan jaring-jaring seluruh masyarakat cyber, namun ia adalah senyatanya merujuk pada “self production system”. Yasraf dalam bukunya posrealitas: realitas kebudayaan dalam era post metafisika (2004) menguraikan bahwa cyber space menciptakan kondisi bagaimana tanda terputus dari realitas. Karena tanda terputus dari realitas artinya, maka tanda menciptakan semacam orbit tanda otonom yang di dalamnya tanda berputar tanpa henti di dalam ruang-ruang virtual.  Pilliang menambahkan bahwa cyber space menyediakan ruang yang di dalamnya tanda, simbol, dan citra dikembangkan secara mandiri, tak terikat relatif bebas, yang memungkinkan ditumpahkan segala modal, kapaitas dan kemampuan kreatif individu atau kelompok di dalamnya. Begitu pula yang terjadi dalam dunia visual.

Senyatanya, dunia fotografi cyber menjadi salah satu aspek pendukung kemunculan dan langegngnya “desa global”, sebuah terminologi dalam ilmu komunikasi, ibarat sebuah desa dengan corak pedesaan yang khas dimana penduduknya memiliki kesepemahanan yang sama dan hobi yang sama, maka fotografi cyber hadir sebagai, desa-“fotografer”-global.  Dalam Understanding Media: Extension of A Man (1964) Marshall McLuhan memperkenalkan konsep ini (desa global). Konsep ini memuat pemikiran mengenai keberadaan masyarakat yang mulai masif terhadap keberadaan teknologi. Desa Global adalah konsep mengenai perkembangan teknologi komunikasi di mana dunia dianalogikan menjadi sebuah desa yang sangat besar. Desa dimana kita bisa merasuk dan berkumpul dalam satu ruang yang “sepaham”. Desa dimana masing-masing warganya memiliki “proyek” identitas dan saling berkontestasi dalam fotografi. Di dalamnya kita akan melihat rekam visual dari berbagai kondisi, alam, manusia, bangunan ataupun cerita-cerita yang ditampilkan melalui foto. Selanjutnya, ketika satu warga mengalami cyber orgasm maka technophilia akan menjalar bagi anggota warga yang lain. Meriah. Dan tolong jangan kau tanayakan apa maksud judul di atas, saya aja bingung 😀

Iklan

2 responses to “Fotografi dan Cyber Culture hingga Cyber Orgasm dalam Desa global”

  1. chandra says :

    padat informasi, menginspirasi buat bahan penelitian psikologi nih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: