Faiva!

Ada sebuah artikel menarik di Visual Anthropology Review Vol. 10, Issue 1, terbitan Maret 1994. Pada halaman 103-111, Elisabeth Hahn menuliskan tentang “The Tongan Tradition of Going the Movies”. Tonga adalah sebuah negara kepulauan di perairan samudra pasifik bagian selatan yang beribukota di Nuku’alofa.

Ia mengawali tulisannya dengan sebuah puisi berjudul “The Cinema”  yang di tulis oleh Konai Helu Thaman. Puisi tersebut bercerita tentang sebuah bioskop yang berada di ibu kota Tonga, Nuku’alofa. Film aksi seperti Rambo dan ninja menjadi film yang cukup digemari di kalangan mereka. Sebagai masyarakat penonton, mereka mencoba “selalu” dekat dan terlibat dalam setiap pertunjukan. Bahkan dalam pertunjukan film pun mereka acapkali ramai berbincang untuk menanggapi adegan ataupun menanggapi apa yang dikatakan oleh narator. Begitu ramai dan meriah sehingga durasi menonton menjadi lebih lama dibandingkan durasi film itu sendiri.

Pada  30 November 1985 sebuah perayaan digelar di sebuah sekolah swasta bernama St. Andrew’s,  di  Nuku’alofa. Pertunjukan digelar dalam rangka memperingati hari jadi sekolah yang ke-80 sekaligus dalam rangka peresmian ruang pertemuan yang baru.

Tamu undangan duduk berbaris. Sang raja pun telah datang untuk menggunting pita sebagai tanda “peresmian”. Tamu undangan bukan sekadar untuk emnjadi saksi mata diresmikannya ruang pertemuan tersebut, tapi juga untuk menyaksikan sederet pertunjukan yang mereka gelar. Seluruh proses pertunjukan di sekolah dimeriahkan oleh orkestra yang dipimpin oleh seorang mc. Dia memperkenalkan tamu undangan penting langsung di barisan sesaat setelah mentasnya “laka-laka”. Nada bicaranya memiliki karekaterisktrik komedian masyarakat Tongga.

Hiburan diakhiri dengan penampilan tau ‘olunga, sebuah tarian tradisional yang di pertunjukan oleh beberapa penari pilihan, saat itu para penari tunggal mulai tampil. Menariknya, dalam tarian tersebut MC “masuk” ke dalam sebuah dialog dan para penonton melontarkan komentar, joke, dan datang ke panggung dengan kondisi tubuh berminyak dengan ditempeli dengan uang kertas.

Para penari membentuk formasi barisan  sebagai “wujud” orang  yang menunggu sumbangan-“nyawer”-. Bagian acara ini adalah yang paling meriah dan kemudian semua orang terlihat riang (mafana) orang-orang yang berpartispasi identik dengan bertepuk tangan sambil berteriak mali-mali, memberikan  uang dengan menghampiri sang penari, ikut berdansa di area panggung, atupun Cuma sekadar melihat mereka yang memberikan uang, bahkan diantara tamu undangan sudah cukup senang dan terhibur dengan komentar yang di lontarkan oleh sang MC.

Faiva dalam Masyrakat Tonga

Dalam variasi konteks yang lebih luas, faiva dimaknai sebagai tarian, musik, puisi oratori, ataupun dongeng, Namun selanjutnya dalam bahasa masyarakat Tonga, faiva lebih dikenal dengan pertunjukan film. Sebagai bekas protektorat Britania Raya, masyarakat Tonga sudah mengenal keberadaan sinema sejak 1920-an. Film-film religius dan film barat sangat populer di Tonga. Sekitar abad pertengahn beberapa informan selalu menyebutkan genre film ini dan orang-orang yang lebih tua mengenal Jones’s horses. Film seperti Ten commandments dan Ben Hur di tonton oleh orang-orang yang duduk dalam kelompok gereja.

Sekitar hampir 30 tahun yang lalu, dalam setiap gelaran faiva (pertunjukan film) sebagian masyarakat Tonga banyak menggunakan jasa narator dalam setiap hajatnya. Terutama mereka yang tinggal di desa kecil. Jasa narator ini digunakan ketika film diputar. Hampir mirip dengan penerjemah bahasa ke dalam bahasa isyarat bagi tuna rungu.  Awal tahun 1970-an, dalam setiap gelaran faiva mereka biasanya menambah beberapa jam lebih panjang dibanding filmnya. Beberapa narator membuat komentar tambahan dan menambahkannya dengan menari laka-laka. Sebuah tari tradisional yang di perjunjukan dalam baris mengahadap ke penonton. Kaeppler (1993:90) mendefenisikan laka-laka sebagai metafora lagu  dan pidato yang ditarikan.

Tava adalah salah seorang  narator sekaligus interpreter film yang terbaik di  Nuku ‘Alofa. Dia sudah tidak bekerja untuk beberapa tahun, sekarang Ia tinggal di Selandia Baru. Sekitar 1970, perusahahan teater di ibukota merasa pentingnya interpreter untuk para penonton film. Sehingga keberadaan narator menjadi nilai jual tersendiri, dan Tava adalah salah satu yang paling digemari. Jadi bisa dibayangkan betapa asyiknya menonton film dengan dipandu oleh seorang narator yang turut serta menyampaikan pesan-pesan dalam film, mirip semacam dalang. Ahhaayyy Jebreett, pemirsa!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: