Menjamah Sisi “Membayang” Fotografi Indonesia


DSC_1502“Memotret adalah ekspresi gaya hidup urban: (seakan) upaya mengada”                                                 :Tubagus P. Svarajati.

Sejak Louis Jacques Mandé Daguerre memperkenalkan “Daguerreotype” 1839 silam, sejak saat itu pula fotografi mulai menancapkan namanya sebagai bagian dari kebudayaan visual. Mata dunia menjadi terbuka secara benderang. Melalui tampilan visual, terhampar kehidupan masyarakat segenap isinya. Tidak berhenti di situ, kepentingan dokumentasi perlahan bergerak menuju kapital yang mengarahkan tajinya pada kepentingan konstruksi realitas.

Tak berlebihan jika Tugabus P. Svarajati dalam buku  terbarunya menyematkan judul “Photagogos; terang gelap fotografi indonesia”. Fotografi telah membawa pencerahan, ia telah berlaku layaknya Photagogos yang dalam bahasa latin berarti “sang pembawa cahaya”. Cahaya yang kemudian diolah, direkayasa, dan dikonstruksi untuk suatu kepentingan tertentu.

Memasuki milenia ke tiga, teknologi fotografi semakin populer, hingga siapapun bisa menjadi fotografer. Siapapun yang menenteng kamera “berhak” atas citraan fotografer bagi dirinya sendiri.  Cahaya menjadi modal dalam penciptaan karya foto. “Cahaya adalah gospelnya fotografi”, setidaknya begitu kata Oscar Motuloh dalam pengantar buku ini.

Di tengah gemerlap dunia fotografi, tampaknya ada sisi “gelap” yang perlu diulas, perlu dibahas dan dibahasakan. Mungkin ini menjadi alasan kenapa Tubagus P. Svarajati dan Wahyudin As menyepakati secara redaksional “terang-gelap fotografi indonesia”, bukan “ gelap-terang fotografi indonesia”. Saya rasa kesepakatan tersebut bukanlah ketidaksengajaan, tapi adalah hal yang disengaja. Bukan hanya mengacu pada faktor esetetika penamaan belaka, namun hal tersebut adalah sebentuk politik wacana penamaan yang cukup filosofis. Inilah yang membuat buku ini sudah menarik sejak lembar paling pertama, lembar sampul.

Saya melihat penggunaan kata “terang-gelap”, bukan “gelap terang” menjadi dasar pemikiran bahwa sesuatu yang terlihat terang-setidaknya dalam konteks fotografi- pasti akan menimbulkan sisi gelap “membayang” dan yang membayang hampir selalu dilupakan atau dianggap bukan wilayah “perlu” untuk dibahas. Gemerlap selalu lebih menarik. Kealpaan inilah yang coba diulas. Bahwa fotografi memerlukan catatan kritis seperti yang dihadirkan dalam buku ini. Bukan lagi melulu menyoal bab teknik yang menurut saya pribadi adalah hal yang personal, toh dalam ruang-ruang postmodernisme keberadaan fotografi dengan ragam teknik visualnya adalah hal yang “personal” dan “mana suka”.

Yang saya maksudkan dengan sisi “gelap –membayang” adalah arena diskursif yang sudah sepatutnya layak untuk diperbincangkan dan berada pada porsi yang sama dengan gemerlap yang selama ini diperbincangkan (bab teknik). Bukan lagi menjadi sekadar bayangan, namun menjadi semacam “photagogos” bagi ruang kritik foto. Melulu memperbincangkan teknik  membuat kita “terjebak”, lalu menghamba pada teknologi dan lupa bahwa fotografi adalah bagian budaya visual yang harus dibicarakan lebih dari sekadar tips-trik dan semacamnya.

Buku setebal 201 halaman ini adalah sebuah “bahasan baru” dalam diskursus fotografi Indonesia. Jika sebelumnya fotografi termediakan dalam simpul pembahasan teknik dengan memajang foto-foto “glamour”, justru buku ini membahas fotografi dari kacamata “liyan”. Wahyudi As dalam pengantarnya mengatakan bahwa buku ini adalah sebuah “fragmen-fragmen pemikiran” dari Tubagus P. Svarajati.

Tubagus P. Svarjati, dengan latar belakang kajian seni rupa, fotografi dan kebudayaan umum, cukup fasih untuk berkelok-kelok membawa muatan dalam ragam perspektif. Minatnya pada dunia filsafat membuat beberapa tulisannya pun beraroma filsafat. Di tambah lagi, pengalamnnya dalam dunia fotografi cukup beragam. Ia adalah salah satu pendiri Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang dan sempat menjadi koresonden majalah FOTOmedia dan kontributor Majalah Nikonia. Kisah-kisah dalam dunia fotografi Indonesia juga menjadi sasaran untuk diulas secara bernas dan cukup tajam, seperti yang termuat dalam bagian ketiga buku ini.

“Photagogos” bukanlah kata bentukan baru ataupun comotan langsung dari bahasa asalnya yang kemudian secara sadar “dilabelkan” menjadi judul buku ini. Photagogos sebelumnya sudah mendarat dan melekat dalam buku seorang profesor dari Princeton University, Eduardo Cadava. “Words of light:theses on the photography of history (1998) adalah judul buku tersebut.  Photagogos berdiri mentereng sebagai judul kata pengantarnya, lalu Wahyudin As terilhami untuk mengadopsinya menjadi judul buku ini.

Photagogos diartikan sebagai “sang pembawa cahaya”. Terang gelap fotografi Indonesia coba diperbincangankan dengan sudut pandang yang menarik. Wahyudin As, sebagai penyunting layaknya pengatur strategi dalam pertandingan sepak bola. Formasi tulisan ia tata dengan begitu baik, Sebanyak 47 esai ia bagi kedalam empat bagian dan ia kategorisasikan  begitu rancak.

Pada bagian pertama Tubagus menyematkan judul “kosakata cahaya”. Bagian ini terdiri dari 21 Esai. Bahasa visual menjadi topik yang cukup menarik bagi pintu gerbang menuju bagian-bagian berikutnya. Sub bab bagian pertama, membahas perihal sejarah visual sebagai jejak  ingatan yang paling sahih, meski pada akhirnya kesahihan tersebut luruh melalui ruang teknologi. Kesahihan foto sebagai kebudayaan visual serta merta ia bantah dalam konteks “objektivitas” yang menurutnya mampu memainkan fantasi, rekayasa, sampai dengan siginifikasi yang melebar (hlm. 1). Apa yang diutarakan oleh Tubagus adalah sesuatu yang benar adanya untuk kita amini, bahwasanya foto adalah sebentuk rekayasa, ia merupakan propaganda atau bisa dikatakan sebagai politik visual. Termediakannya karya –karya visual menjadi semacam jembatan menuju ruang perbincangan berikutnya. Ruang dimana bersemayamnya interpretasi, jika kita tarik dalam terminologinya Roland Barthes, maka ruang antara studium dan punctum akan terjembatani dengan leluasa.

Praktik wacana dan kekuasaaan ala Michel Foucault juga menjadi titik pembahasan yang tak kalah menarik, menurutnya kamera adalah alat kuasa yang melekat pada diri fotografer, fotografer bebas meniadakan atau menyetujui realitas yang terekam. Dalam fragmen (baca:esai) berjudul “kamera”, Tubagus mengambil contoh pada wilayah foto model. Foto model berkuasa atas tubuh eksistensialisnya sendiri guna berpose seturut kata hatinya. Artinya, foto model punya peluang terbuka untuk sebaliknya mengobjektivikasi subjek-pemotret. Alhasil, subjek-pemotret berubah menjadi objek yang ditatap oleh model (hlm. 11). Resistensi yang demikian, dahulu pernah ditunjukan oleh Madonna, sebagai ikon pop. Ia tak hanya tunduk pada indutsri yang mencengkramnya, namun ia justru melawannya, kepemilikan kapital sosial ataupun kuasa atas kapital ekonomi membuat perempuan dalam tatapan lensa menjadi lebih “berdaya” serang.

Fenomena foto salon sebagai bentuk budaya populer pun mendapat “nyinyiran” yang cukup tajam dari Tubagus, setelah sebelumnya ia “nyinyir”  perihal kuasa visual, pada sub bab berikutnya, pada fragmen ke-8 bagian pertama ia membahas foto salon. Foto salon menjadi semacam pijakan dan parameter “prestise” seorang fotografer. Pada tataran tertentu, para peminat fotografi lebih melihat tatanan artistik yang mendayu-dayu lagi dramatis.

Faktor  teknik menjadi “bab penting”. Perkara semacam inilah yang kemudian memunculkan keraguan penuh tanya dalam hati Tubagus,  “jika perkara teknik menjadi tujuannya, yang kemudian melahirkan genre salon, misalnya, tentu saja muncul kegamangan dan kecurigaan dari sana: sebenarnya capaian apa yang hendak diraih dari maksimalisasi teknik fotografi itu? (hlm. 25). Terkungkungnya fotografer dalam industri budaya menunjukan bahwa tren fotografi mengacu pada tren alat, dan hal yang demikian menjadi semacam “candu” akan industri kapital. Kebanggaan menenteng kamera dan orientasi tubuh sebagai lahan eksplor kemampuan memotret menjadi semacam gaya hidup kaum-kaum urban. Selanjutnya, fragmen pemikiran mengenai tubuh “foto model” ini terus berlanjut dan kembali dimunculkan pada bagian terakhir (bagian keempat) buku ini.

Beberapa esai yang menyangkut “diri” coba dimunculkan pada bagian kedua, “Menimbang Pandang Cahaya Terpajang”, begitu ia memberi judul. Pada bagian ini ia berusaha mengupas citraan fotografi yang terpampang, atau berusaha dipajangkan (dimediakan) untuk “kepentingan” konstruksi ataupun wilayah jati diri seseorang. Ruang-ruang visual menjadi cerita dan pengalaman yang tetap utuh, dan seketika dapat dipanggil kembali sebagai kenangan yang personal. Ia mengambil contoh (foto) keluarga dalam fotografi.

Esai bertajuk “keluarga” bercerita tentang Tino, seorang bocah kecil yang diadopsi oleh keluarga Belanda,  kemudiaan ia hidup dan besar dalam kultur eropa. Lalu, kesadaran akan identitas dirinya muncul. Tino merasa berbeda dengan kedua orang tua (angkat) dan saudara-saudaranya di Belanda. Kemudian Ia berusaha mencari, ia menempuh perjalanan yang teramat panjang, menuju tanah kelahirannya, Indonesia. Tapi tak ada hasil. Hingga suatu ketika ia menerima surat dari seorang perempuan yang mengaku sebagai ibu kandungnya. Tino tak langsung bisa percaya atas pengakuan tersebut. Melalui korespondedsi dan data-data yang ada, Akhirnya ia percaya bahwa perempuan tersebut adalah ibunya.

Perjumpaan Tino dengan ibunya adalah sebuah kegembiraan baginya, namun perbedaan budaya yang selama ini melingkupinya membuat Tino merasa kaku dan aneh. Tini kemudian tersadar betapa pentingnya serial fotografi keluarga. Melalui fotografi ia mencari identitas akan dirinya. Hal Inilah yang membuat Tino Djumini kemudian melahirkan serial fotografi dan dibukukan dengan judul “kerabat:potret keluarga indonesia masa kini” (2006)

Fragmen-fragmen pemikiran Tubagus pada titik tertentu sampailah pada persinggungan dengan dirinya sendiri. Dengan judul “Mengukuhkan Bayangan”, Tubagus banyak  mengulas kupas tentang keterhubungan dirinya dengan dunia fotografi Indonesia. Keterhubungan tersebut yang pada akhrinya bisa dikatakan sebagai ruang yang cukup sentimentil bagi dirinya. Sebagai penggagas dan pendiri Klub Foto Semarang, Pendiri PFI Semarang, dan ia juga pernah selama 3 tahun (2000-2003) menjadi koresponden FOTOmedia yang kemudian diceritakan mengalami kebangkrutan. “Kematian majalah FOTOmedia adalah sebuah kemunduran besar dan kekalahan industri fotografi serta perkabungan nasional bagi penggemar fotografi Tanah Air”, tulisnya. (hlm. 145)

“Memandang Cahaya Kebijaksanaan”, menjadi judul terakhir dari empat kanal (bagian) dalam buku ini. Di sini, Tubagus banyak berbicara perihal cara pandang, meski beberapa bahasannya “mengulang” bahan dasar topik sebelumnya. Namun hal tersebut justru menjadi tali penguat antar bagian. Seperti esai berjudul “Mata Asing” yang sedikit “mengulang” (kembali) ide pikir dari Susan McCartney, yang sebelumnya sudah pernah dibicarakan di bagian pertama esai ke-20 dengan judul “pelancong”. Kedua esai ini sama-sama membicarakan  tentang fotografer dengan “foreigner’s eyes”nya sebagai cara pandang se-orang asing yang selalu melihat hal-hal baru dengan “keterpesonaan”. Dan, seperti yang sudah saya tuliskan diatas, pada bagian ini Tubagus mendedah lebih dalam perihal foto model. “sang model” dihadirkan dengan perspektif cukup berkelok dari dunia fotografi, ia melihat fenomena foto model dari sudut pandang “Lacanian” dengan menyoal tiga konsep dasar manusia; kebutuhan (need), permintaan (demand), dan hasrat (desire)

Esai “seni melihat” (hlm.175) menjadi penutup yang renyah bagi buku ini. Pada bagian ini, ia kembali menyitir ide pikir Susan McCartney perihal penggunaan “foreigner’s eyes”. Dalam artian melihat sesuatu dengan cara pandang baru, yang sudah selazimnya dimiliki oleh orang asing, orang asing melihat dengan kuriositas; dan hal inilah yang membuka peluang fotografer untuk menghasilkan foto yang baik. Dari rentenan tulisan yang tersaji, Tubagus P. Svarajati mengakhirinya dengan kalimat yang meringankan bagi mereka yang lebih “memilih” sebagai spectator (penonton), “sesungguhnya, diluar kompleksitas signifikasinya, landasan filosofis disiplin fotografi cukup sederhana:seni melihat. (hlm. 179). Inilah photagogos, ia berpendar dan menjadi warna bahasan fotografi indonesia yang semakin komplek.

Oleh : Daru Tunggul Aji
Judul Buku : Photagogos;Terang Gelap Fotografi Indonesia; Penulis : Tubagus P. Svarajati; Penerbit : Suka Buku, Semarang,; Cetakan : I, September 2013 Tebal : xxxix + 201 Halaman; ISBN: 978-602-19785-8-0

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: