Tentang Foto Jurnalistik

Dalam sebuah acara, terjadi perbincangan yang cukup menarik perihal foto jurnalistik. Seorang bertanya: apa foto ini bisa dikatakan sebagai foto jurnalistik?, foto ini dramatis, foto ini sangat informatif. Lalu teman yang lain menimpali, “kenapa kamu sebut itu jurnalistik? Apa bedanya dengan human interest? Apa menariknya? Itu kan cuma foto keseharian biasa, cuma dokumentasi”.                                                                                                                                                                                         “Di pasar dekat rumahku, hampir setiap pagi aku menemui foto seperti itu”, sahut teman yang lain.

Fotografer memiliki hak sepenuhnya untuk melakukan “klaim” kategori terhadap foto yang ia hasilkan. Lantas apa sepenuhnya seperti itu? Hemmm…..Saya pikir, dalam melakukan kategorisasi kita perlu menimbang perihal pemahaman umum tentang keberadaan foto tersebut. Hal ini dilakukan untuk memperkuat citraan sekaligus memberikan jalan yang senada antara maksud fotografer dengan spectator (penonton foto). Pemahaman umum yang saya maksud adalah porsi muatan (visual) yang secara nalar dapat dipahami oleh masyarakat awam secara mudah. Begitu melihat konten foto, spectator dapat dengan cepat menjatuhkan “klaim” atas muatan foto tersebut. “Hemm..oiyaya”, setidaknya muncul peng-iyaan atas judul yang disematkan oleh si fotografer.

Foto beserta kategorinya memang menarik untuk diperbincangkan. Miturut saya pribadi, kategorisasi foto bukanlah sesuatu yang alamiah. Ia hadir atas kuasa si fotografer. Fotografer berkuasa sepenuhnya atas foto yang ia ambil. Kategorisasi bukan serta merta hadir melalui tampilan visual, tapi sudah diawali dari proses ketika ia membidik.

Ada sedikit ganjalan ketika kita membincang foto jurnalistik sebagai kategori. Ah, mari kita obrolkan saja. Apa yang ada di benak dan kita pikirkan ketika mendengar istilah “foto jurnalistik”? Mungkin jawabannya akan sangat beragam; foto yang berbicara, foto yang menyampaikan pesan, dan foto yang memiliki makna, atau bahkan foto yang mengandung berita. Mungkin jawaban semacam itulah yang sering muncul.

Bagi saya pribadi jawaban semacam itu “hanya” serupa dalih dan terlalu mengada-ada. Sejak kapan foto bisa berbicara, terlebih lagi bisa menyampaikan pesan? Ia (foto) hanya benda mati, hanya sekumpulan warna dalam selembar bingkai yang membentuk kesatuan visual secara utuh. Foto hadir untuk dibicarakan, bukan untuk berbicara. Foto yang menyampaikan pesan, foto yang memiliki makna, foto yang mengandung berita? Ah, bukankah sebagai bentuk komunikasi visual foto sudah memiliki makna serta bersifat berita? Selembar foto hadir secara politis, fotografer membidik, membingkai untuk membentuk konstruksi pesan. Dan konstruksi-konstruksi inilah yang kemudian bisa dibicarakan.

Sepakat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Kartono Riyadi, bahwa pada dasarnya foto adalah dokumentasi dan foto jurnalistik adalah bagian dari foto dokumentasi. Salah satu yang membedakan antara foto jurnalistik dengan dokumentasi adalah terletak pada ruang dimana foto itu berada, apakah foto tersebut dipublikasikan di media massa atau tidak. Jelas, bahwa foto seperti apapun, dari ketegori manapun akan hanya bersifat dokumentasi ketika ia tidak “ter-media-kan” (terpublikasikan melalui “ruang” media). Untuk konsep kekinian, mungkin tidak hanya terbatas pada media massa, lewat jejaring sosialpun pun bisa, sejauh ia didampingi teks informasi. Inilah yang kemudian saya sebut “termediakan”

Seorang Wilson Hick, redaktur majalah life (1937-1950) dalam “world and pictures” (1972) pernah menuturkan bahwa foto jurnalistik adalah media komunikasi verbal dan visual yang hadir secara bersamaan. Sebaik-baiknya foto, sedramatis-dramatisnya foto ketika ia hadir tanpa teks maka ia hanya sebatas foto dokumentasi biasa, belum bisa dikatakan “bersifat” foto jurnalistik karena ia tidak temediakan dan tidak ada informasi teks yang melengkapinya. Tapi meskipun hanya selembar pas foto, ia bisa saja bernilai jurnalistik ketika dipublikasikan dan dilengkapi dengan teks (5W+1H) dan bisa dipertanggungjawabkan. Bolehlah jika kemudian saya mengatakan bahwa foto jurnalistik adalah sebentuk sifat yang kemudian berisi kategori-kategori. Sifat yang serta merta menempel pada foto ketika foto tersebut memasuki ruang media.

Sebuah kesimpulan coba saya ambil, bahwa segala bentuk  (foto dokumentasi) dan ketegorinya bisa terkonversi dan masuk dalam ruang bernama foto jurnalistik ketika ia termediakan. Foto jurnalistik adalah sebuah lautan yang maha luas, ia bisa menerima jenis foto apapun. Bagaimana kita bisa membedakan ragam foto (human interest, landscape, makro, dsb ) dengan foto jurnalistik? Selain pada sifatnya yang termediakan. Sekian.

Iklan

2 responses to “Tentang Foto Jurnalistik”

  1. makhluklemah says :

    Yg aku tahu foto jurnalistik adalah moment. Jd prinsip artistik sedikit dikesampingkan.

    • rumahpentaprisma says :

      Pada dasarnya semua foto adalah “moment”, momen yang dengan sengaja dipilih oleh si fotografer. Nah, yg dimaksudr prinsip artistik itu yg bagaimana?

      Kalo saya pribadi memaknai foto jurnalistik adalah foto yang dimediakan dengan dilengkapi teks. Ketika tidak dimediakan -meski- mengandung teks. Belum bisa dikatakan foto jurnalistik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: