Membincang Kritik Foto

Sejak kelahiran daguerreotype pada 1839 silam, tata kehidupan sosial masyarakat menjadi semakin kompleks. Alat foto menjadi simbol “keistimewaan” dalam kelasnya. Teknologi kamera menjadi simbol identitas serta kelas. Keahlian memotret dan “hak” untuk memotret dan dipotret hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja. Teknik rekam visual terus berkembang, pun dengan wacana yang melingkupinya.

Fotografi (teks-bahasa visual) sebagai praktik dan kekuasaan sosial memuat wacana yang dipengaruhi oleh kondisi sosial. Pun sebaliknya, kondisi sosial juga dipengaruhi oleh wacana. Hubungan resiprokal inilah yang kemudian “menuntut” hadirnya pembahasan di luar perkara mesin (teknik). Dalam hal ini, kehadiran kritik foto menjadi penting dalam melengkapi triadik khazanah fotografi indonesia (sejarah, teori, serta kritik foto). Kritik foto menjadi bagian yang “samar” dari studi fotografi, mengingat sejarah foto maupun teori foto begitu banyak kita jumpai. Seolah kehadiran kritik foto tertimbun oleh ramainya tebaran citra visual yang terus menerus diproduksi.

Sekadar sebagai pengantar sekaligus pembanding, bolehlah jika saya mengutip apa yang pernah dituliskan oleh seorang kritikus sastra, Maman S. Mahayana. Dalam tulisannya yang berjudul “Sejarah Perkembangan Teori dan Kritik Sastra Indonesia”, Maman mengatakan: “Kritik sastra di Indonesia sesungguhnya sudah dimulai sejak awal tahun 1932 ketika majalah Pandji Poestaka menyelenggarakan sebuah rubrik yang bertajuk “Memadjoekan Kesoesasteraan”. Sutan Takdir Alisjahbana tercatat sebagai salah seorang redaksinya. Dalam rubrik itu, Alisjahbana mengulas puisi-puisi yang dikirim ke majalah itu. Di samping itu, ia juga sering kali menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya para sastrawan untuk mengungkapkan gagasannya secara bebas, tanpa harus terikat oleh bentuk-bentuk kesusastraan lama. Dalam Pandji Poestaka edisi 5 Juli 1932, Th. X, misalnya, dimuat sebuah artikel berjudul “Kritik Kesoesasteraan”. Dapat dikatakan, artikel inilah yang pertama secara eksplisit mencantumkan kata “kritik kesusastraan” dalam kritik sastra Indonesia. Dalam perjalanannya, selepas Alisjahbana keluar dari majalah Pandji Poestaka dan bersama Amir Hamzah dan Armijn Pane menumbuhkan majalah Poedjangga Baroe, tulisan-tulisan yang bersifat kritik dan teori sastra, makin ramai bermunculan dalam majalah itu”

Hal seperti itulah yang masih amat jarang kita temui dalam majalah foto di Indonesia, ada berapa majalah foto di Indonesia yang menampilkan ulasan foto secara kritis di luar bab teknik? Mungkin ada, tapi sedikit. Tapi ada berapa majalah foto yang menampilkan ulasan kamera, tips dan trik, atau menampilkan galeri foto dengan kegahan visualnya? Jawabnya: banyak. Hampir semuanya, bukan?

Sastra memulai tradisi kritiknya melalui politik bermedia (majalah) waktu itu. Begitupula dengan seni rupa. Tradisi kritis seni rupa dimulai dengan lahirnya PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia). Trisno Sumardjo menyebutkan bahwa PERSAGI menandai lahirnya seni rupa modern dan dimulainya kritik terhadap seni rupa Indonesia.

Tahun 1939, S. Sudjojono (Persagi) menulis sebuah esai bertajuk Kesenian Melukis di Indonesia di majalah Keboedajaan dan Masjarakat (diterbitkan ulang pada 1946 dengan judul Seni Lukis Indonesia Sekarang dan yang Akan Datang dalam buku Seni Lukis, Kesenian, dan Seniman). Dalam esai tersebut dia menolak seni rupa Mooi Indie yang “semua serba-bagus dan romantis bagai di surga, semua serba enak, tenang dan damai.” Baginya lukisan Mooi Indie tak ubahnya ilusi, tak mencerminkan kehidupan bangsa Indonesia yang sebenarnya, hanya menipu dan mengalihkan kesadaran bahwa bangsa ini sedang dijajah. (Silvia Galikano, Majalah Detik edisi 12, 20-26 Februari 2012)

Jika sastra dan seni rupa menggunakan media untuk memulai dan melahirkan tradisi kritisnya, maka fotografi justru urung melakukannya. Hingar-bingar media foto begitu banyak, majalah foto lahir dengan gagah dan warna yang mentereng, sayangnya catatan-catatan kritis belum “laku” untuk dimunculkan. Kalah saing dengan tampilan visual “bergaya” salon, serta kalah pamor dengan ulasan teknik maupun ulasan perlengkapan fotografi.

Tradisi kritik foto sejatinya sudah berkembang sejak lama. Pembahasan yang dilakukan Barthes mungkin paling populer. Barthes pernah melakukan analisis kritis terhadap sampul majalah berbahasa Prancis: Paris Match yang menampilkan seorang prajurit berkulit hitam dengan pakaian seragam militer Prancis tengah memberi hormat kepada bendera Prancis. Foto ini nampak biasa saja. Namun, kode-kode kultural yang termuat di dalamnya memungkinkan untuk ditafsirkan secara ideologis. Secara konotasi, gambar ini adalah loyalis seorang Prancis kulit hitam yang tunduk kepada bendera Prancis, namun sebenarnya gambar ini melancarkan kritik atas aktivitas imperial Prancis (Barker, 2010). Bahwa Prancis adalah sebuah kekaisaran yang agung, bahwa semua anaknya, tanpa diskriminasi warna kulit, dengan setia berbakti di bawah naungan bendera tri warna, dan bahwa tidak ada jawaban yang lebih tepat untuk pengkritik kolonialisme daripada antusiasme yang ditunjukan oleh sang negro dengan mengabdi kepada apa yang disebutnya sang penindas (Barthes, 1972)

Tidak hanya berpondasi pada sektor semiotik saja, ladang-ladang keilmuan yang lain pun sejatinya membuka jalan yang lapang bagi pengkajian foto. Di luar lingkup akademis, kritik foto belum sepopuler “permainan” teknik foto. Terbukti dengan banyaknya lomba foto yang lebih mengedepankan tampilan visual dengan hadiah menggiurkan. Meski dengan sadar, para panitia penyelenggara foto menggunakan foto tersebut sebagai konstruksi kepentingan dan acap kali dijadikan “kampanye” sosial. Sayangnya, sayembara kritik foto masih “nihil” keberadaanya.

Melubernya citra visual menjadi ladang yang subur untuk tumbuhnya kritik foto di Indonesia, mengingat Indonesia adalah pasar yang besar bagi industri visual. Tengok saja, berapa banyak anggota klub foto (komunitas) online, berapa banyak pengguna sosial media berbasis foto, serta berapa banyak pengguna DSLR terbitan luar yang eksis di Indonesia. Ironisnya, eksplorasi visual yang dengan gegap gempita hadir belum diimbangi dengan catatan kritis. Mereka lebih suka untuk membincang perkara teknik yang sejatinya sudah mirip tukang.

Anggota komunitas foto cenderung “terjebak” pada estetika salon dalam perkara teknis. Mengutip apa yang dituliskan oleh Tubagus Svarajati dalam Photagogos:gelap terang fotografi Indonesia (2013) “Lantas, jika perkara teknik menjadi tujuannya, yang kemudian melahirkan genre salon, misalnya, tentu saja muncul kegamangan dan kecurigaan dari sana: sebenarnya capaian apa yang hendak diraih dari maksimalisasi teknik fotografi itu? Bukankah teknik sekadar alat bantu mengungkapkan gagasan, pesan, dan makna ke bentuk rupa yang kemudian bisa diartikulasikan sebagai suatu bahasa-bahasa visual, sehingga ia pun layak diperlakukan sebagai sebuah teks? (2013:25)

Komunitas foto menjadi pasar tersendiri bagi mereka para panitia lomba. Sehingga lomba fotopun hanya meriah pada tataran teknis dengan tawaran keterpesonaan visual. Mereka lupa, bahwa di balik pesona visual tersebut ada “ruang gelap” yang sejatinya mengandung muatan wacana yang tidak kalah penting bagi perkembangan fotografi. Sisi-sisi diskursus seketika tenggelam dalam hingar-bingar kemapanan serta kegagahan karya. Kritik foto perlu hadir dalam melengkapi triadik (sejarah foto, teori foto, kritik foto) yang berorientasi pada wacana kritis. Membongkar praktik-praktik kuasa visual di luar masalah teknik.

Iklan

One response to “Membincang Kritik Foto”

  1. makhluklemah says :

    Ulasan yg menarik, foto sejatinya gsgasan yg disampaikan dlm bentuk gambar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: