Membincang Kritik Foto Jilid 2

Memperbincangkan fotografi bukanlah sekadar memperbincangkan kenikmatan visual semata, namun manusia dan kebudayaan turut ambil bagian di dalamnya. Secara wacana, ada dua sisi yang saling terkait untuk diperbincangkan: sisi mikro juga makro. Yang pertama lebih kerap diperbincangkan, bahkan lebih banyak dibukukan. Mengingat sisi ini banyak memuat teknik-teknik yang mengantarkan pada tujuan produk visual bernama foto. Produk visual yang kemudian menjadikannya bernilai (sosial maupun ekonomi).

Selama ini kritik foto hanya dibentangkan pada paparan kritik “praktik” yang mencakup wilayah teknik serta berkubang pada wilayah karya semata. Ketika selembar visual bernama foto menjadi produk, maka ia “hanyalah” sebuah alat. Hanya membicarakan alat tentu saja menjebak pada perbincangan pertukangan. Manusia dan kebudayaan tentu saja bukan sekadar perkara permainan tukang, namun mengarahkan pada khitahnya sebagai animal symbolicum. Manusia sebagai animal symbolicum, kata Ernst Cassirer, tentunya memiliki wacana penandaan yang terorganisir dan membentuk simbol-simbol serta merangkainya menjadi sistem relasi kuasa dalam konteks kebudayaan visual (foto).

Jika fotografi adalah bahasa dan kita tempatkan sebagai teks, maka ia adalah lahan subur bagi ragam disiplin keilmuan. Jika mikro “hanya” bergelut pada tataran karya dan memperbincangkannya secara struktur teknis, komposisi, warna, pencahayaan, serta sudut pandang, maka urusan makro lebih melibatkan pada faktor sosiokultural (situasional, institusi, serta sosial).

Periode 2003 silam, Seno Gumira Ajidarma memberikan perbincangan yang menarik dalam dunia fotografi. Melalui bukunya yang berjudul “Kisah Mata: Fotografi Antara Dua Subyek: Perbincangan Tentang Ada” Seno mencoba menyetubuhkan antara fotografi dan filsafat. “Fotografi sudah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, namun di Indonesia perbincangan fotografi lebih menyangkut segi-segi teknis dan estetis. Buku ini adalah perbincangan filsafat atas makna fotografi dalam kehidupan manusia”, tulis Franz Magnis Suseno dalam cover belakang buku tersebut.

Potensi kritik foto sejatinya bisa saja tumbuh kembang dalam ruang lingkup lomba foto, sayangnya juri hanya memilih dan menentukan pemenang tanpa meninggalkan jejak catatan kritis yang bisa “dimediakan”. Ada berapa banyak lomba foto yang hanya mengumumkan pemenang?hampir semuanya. Lalu ada berapa banyak lomba foto yang turut serta melampirkan catatan wacana –visual- kritis foto-foto yang masuk dalam perlombaan tersebut, sudah ada?

Catatan-catatan pewarta dalam mereview pameran foto ataupun pengantar yang sering kita baca dalam “katalog” pameran sebenarnya menjadi titik perbincangan kritis yang menarik, sayangnya ia acapkali hanya menjadi catatan “legitimasi” yang habis ketika hajatan (baca: pameran) juga habis. Tak ada keberlanjutan. Justru industrilah yang kemudian menjadi acuan dalam pengkaryaan. Industri senyatanya mengalirkan tampilan-tampilan berorientasi “pasar” yang justru mendangkalkan fotografi itu sendiri. Bagaimana tidak?, tren alat dan tren citraan terus terpelihara dalam rajutan industri media visual semacam majalah foto yang justru cenderung terus “mengabai” pada kritik foto secara makro.

Di negeri ini, fotografi menemukan pasarnya, menjamurnya komunitas foto dengan respon anak muda yang begitu tinggi menjadikan fotografi sebagai gaya hidup. Tentunya faktor gaya hidup inilah yang kemudian menjadi sektor menggiurkan bagi pemasaran teknologi bernama kamera. Kita mengingat bagaimana FOTOmedia hadir dengan menawarkan rubrikasi seputar teknis dan pengetahuan umum seluk-beluk fotografi dasar (antara lain:komposisi, diafragma, kecepatan, film) serta tanya jawab persoalan fotografi (Svarajati, 2013). Konten yang demikian tentunya menjadikannya sebagai “buku babon” bagi para pegiat fotografi. Tren semacam itu terus berlanjut dalam majalah foto yang ada saat ini yang sayangnya masih minim catatan kritis secara makro.

Majalah-majalah foto lebih berorientasi pada tatanan teknis, kritik secara mikro (tips-trik) terus diberdayakan secara massif, tentu saja faktor industri menjadi salah satu landasannya. Kamera menawarkan “prestise”, menawarkan kemampuan teknis yang memudahkan, ulasan produk, dan ulasan karya secara teknik yang tentu saja mengarahkan konsumen pada alat. Pasar menawarkan nilai gaya dan budaya konsumen menyambutnya sebagai nilai gaya dalam kepentingan status ketimbang nilai guna. Dan majalah foto memfasilitasi ini. Ketika ruang tips-trik demikian lebar, maka ruang-ruang bagi kritik foto pun menjadi demikian sempit.

Saya sedang tidak hendak mendeskreditkan perkara mikro (teknik), karena bagaimanapun kritik foto tetaplah berpijak pada pertautan mikro dan makro. Hanya saja kealpaan wacana kritis dalam tataran makro inilah yang justru menjadi bayang-bayang dan secara tak langsung mengeliminir kerja-kerja kebudayaan (visual) dalam ruang representasi, identitas, serta praktik kewacanaanya.

Menyepakati atas apa yang pernah dikatakan oleh M. Gandhi: “I believe in equality for everyone, except reporters and photographers”, maka ketika fotografi memang tidak akan pernah mengenal kesetaraan, maka teknik hanyalah sekadar alat pertukangan yang dibutuhkan untuk menciptakan ketidaksetaraan tersebut, setelah itu? Maka ketika fotografi mampu mengkritisi dirinya sendiri sebagai institusi teks, maka ia akan menyadari bahwa menghamba dan mengkomersialisasikan teknik adalah menawarkan kebanalan, karena fotografi bukan sekadar tawaran teknik, namun wacana juga relasi kuasa. Dan di sinilah sejatinya kritik foto diperlukan. Bukan lagi sekadar memperkarakan tips dan trik serta pesona visual, namun juga wacana serta relasi kuasa yang dihadirkan.

Ketika fotografi mengalami popularitas sebagai budaya massa yang meriah, justru minat dalam kritik foto sedikit terabaikan. Alex Supartono dalam pengantar Jurnal Kalam edisi 24/2007 yang berjudul “Fotografi dan Budaya Visual” mencatatkan dua poin menarik; “Pertama, semakin banyak pembahasan tentang fotografi dari berbagai disiplin—suatu kecenderungan yang pastilah menggembirakan. Namun, dan ini yang kedua, kurangnya minat para fotografer memikirkan dan membahas medium yang mereka geluti—suatu keadaan yang tentu saja meresahkan”.

Dalam catatan pribadi saya, di penghujung 2013, Tubagus Svarajati mencoba membentangkan paparan perihal kritik foto dalam berbagai disiplin, melalui “Photagogos: Terang Gelap Fotografi Indonesia” ia meramu fotografi dalam persetubuhan berbagai bidang dengan gamblang. Dari menyoal ada, psikoanalisis, hingga bab industri media. Seno, Alex, dan Tubagus telah mencatatkan namanya sebagai peletak bibit kritik foto. Tentunya kita terus menunggu bibit-bibit tersebut tumbuh dan menghasilkan bibit baru. Perlu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: