Meramu Panggung (foto) Kemerdekaan

Setidaknya Frans Mendur butuh waktu enam bulan untuk bisa mempublikasikan karyanya. Selesai memotret proklamasi, Frans dan kakaknya, Alex Mendur harus memperjuangkan jepretaannya tersebut dari rampasan tentara Jepang. Sayangnya hasil jepretan Alex berhasil dirampas, namun tidak dengan Frans. Frans berhasil menyelematkan beberapa. 20 Februari di tahun berikutnya, foto-foto tersebut dipublikasikan melalui Harian Merdeka.

Frans Mendur berhasil mengabadikan momen dimana Soekarno tengah membacakan teks proklamasi. Dalam foto tersebut kita disuguhi sebuah “bingkai panggung”. Dalam artian, Mendur dengan kesadaran –politik- visual membangun framing menyerupai tampilan ketika kita menonton pertunjukan. Satu panggung utuh ditampilkan dengan tokoh sentral berada di depan, Soekarno. Bukan sekadar keperluan dokumentasi dan jurnalistik, namun posisi ini memberikan kekuatan penokohan serta penekanan kepada publik bahwa “atas nama bangsa indonesia” Soekarno-Hatta telah menyatakan kemerdekaan.

Di fotonya yang lain, tampak upacara pengibaran bendera, ia memasukan massa upacara (peserta upacara) ke dalam bingkai. Keputusan ini terbilang tepat, Frans tidak hanya fokus pada aktivitas pengibaran bendera, namun ia juga  memasukan massa upacara ke dalam fotonya, hal ini menjadi kekuatan visual atas “keberlanjutan” foto (pembacaan teks proklamasi).  Bahwa keinginan merdeka bukan hanya menyoal Soekarno membacakan teks proklamasi saja, namun juga keinginan masyarakat sebagai massa upacara.

Kita akan terus mengenang 17 agustus sebagai tanggal yang sakral nan istimewa. Perihal upacara, Taufik Rahzen menuturkan bahwa upacara mampu menimbulkan gairah kebersamaan, yakni semacam energi positif yang dapat memantik motivasi kuat bagi segenap elemen bangsa untuk bangkit. Ini bisa ditafsirkan bahwa yang terpenting bukan momen upacara itu sendiri, tapi bagaimana orang dapat menyesap upacara dan lantas terpacu untuk bangkit (Lubis: 2007)

Gairah kebersamaan inilah yang kemudian menjelma dalam kesatuan yang coba terus direproduksi dan dipanggungkan kembali dalam ragam upacara kemerdekaan. Masing-masing kelompok berusaha menampilkan identitasnya. Identitas yang disatukan oleh satu kekuatan besar bernama bangsa. Kesatuan identitas yang dibentuk, seperti kata Bhaba, berdasar atas narasi bangsa dimana cerita, citra, simbol dan ritual merepresentasikan makna “kebersamaan”. Hal inilah yang mengada melalui upacara.

Ada banyak foto upacara pada hari ini, mulai dari foto upacara di gunung, goa, bawah air, sawah, hingga pasar. Dari beberapa yang ada, saya tertarik untuk mencermati foto upacara di pasar. Coba buka kompas Senin (18/8) halaman 21, kita menyaksikan sebuah foto upacara di Pasar Nongko, Solo, Jawa Tengah. Selain sebagai penyangga ekonomi, pasar adalah ruang dimana relasi kuasa serta hasrat ekonomi tumbuh dan berkembang . Namun, yang menarik darinya adalah kita menyaksikan ruang multikultur. Ada ragam kepentingan juga ragam barang yang diperdagangkan, tak peduli darimana asalnya, ia menyatu dalam ruang yang sama dan ditawarkan kepada siapapun yang berminat. Pasar memiliki sejarah yang panjang dalam perjalanan bangsa ini. Meramu pasar sebagai panggung upacara tentu saja menarik. Selain tempat “bermukimnya” penjual dan pembeli, pasar adalah ruang interaksi juga komunikasi. Semua berkuasa atas lapaknya masing-masing.

DSC_2807

Erwin Edhi Prasetya, sebagai fotografer cukup jeli dalam melakukan konstruksi visual dan mempertautkan kode-kode kultural yang ada dalam pasar.

Tampaknya Erwin sadar betul perihal kesadaran ruang beserta atributnya. Suatu kesadaran yang diekspresikan melalui simbol-simbol serta diskursus. Bagaimana ia memilih sasaran masyarakat pasar tradisional dengan atribut lokal (batik) yang disatukan dalam ruang kesadaran yang sama: ruang kesadaran upacara.

Beberapa foto upacara kemerdekaan yang muncul di hari ini (18/8) memiliki pola kecenderungan membidik massa upacara. Merekalah pemilik sekaligus pelaku upacara. Upacara adalah cerita dan simbol tentang sebuah identitas juga sebuah rasa. Jika Frans Mendur menonjolkan Soekarno sebagai “tokoh foto” dalam rangka alasan kesadaran politis, maka Erwin telah membangun keyakinan bahwa dalam Upacara di Pasar (judul foto tersebut) adalah sebuah representasi kebersamaan sekaligus resistensi terhadap hadirnya pasar modern.

Dengan pengambilan sudut pandang yang demikian, Erwin menghidupkan roh (massa) upacara sekaligus memberikan citra yang estetis dari foto jurnalistik. Sayangnya, pada titik ini kita akan menemui “persimpangan” klasik perihal daya pikat foto jurnalistik, antara sebagai “pembawa kabar” dan “nilai seni” foto. Menyitir pernyataan Seno Gumira Ajidharma bahwa jika foto dipandang sebagai media, betapapun canggih dan tinggi ‘nilai seni’ foto tersebut, foto itu sendiri memang hanya media, yang betapapun penuh dengan pesona artistik tetaplah yang lebih penting darinya adalah kabar yang dibawa. Jika tidak, foto itu sebagai pembawa kabar akan seperti mengkhianati subjeknya, karena lebih terpamerkan sebagai ‘foto bagus’. Semoga kita tidak lantas melupakan esensi dari upacara dalam ruang pasar tradisional atas dasar tampilan yang estetis lagi artistik ini.

****

Bagi saya, foto proklamasi menjadi salah satu foto terbaik sepanjang masa, ia tidak hanya berkisah namun juga mengubah pandangan dunia tentang Indonesia. Foto yang memenuhi hajat hidup jutaan jiwa rakyat indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Tanpa foto tersebut, kita hanya akan mendengar kabar proklamasi layaknya cerita rakyat yang diceritakan secara turun temurun. Mendur telah memberikan hadiah terbaik bagi bangsa ini. Tak ada yang lebih istimewa dari jejak kenangan yang menyatukan ratusan ribu jiwa dalam sebuah upacara. Terimakasih Alex, Frans Mendur. Kami mengenangmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: