Fotografi Kuliner: Visualisasi dan Hasrat Kampungan

Seperti halnya fashion, makanan telah menjadi perbincangan yang menarik dalam budaya visual. Dalam fashion semua yang kita lihat adalah “permainan sederhana tanda-tanda”, begitu kata Baudrillard. Pun demikian dengan makanan. Dengan termediakannya makanan melalui sentuhan fotografi, makanan tak ubahnya fashion yang penuh dengan dominasi kode sekaligus sumber prestise bagi penggunanya.

Agaknya kita perlu menilik ulang apa yang pernah diutarakan oleh Richard Magee bahwa ketika makanan keluar dari dapur, maka ia (makanan) “terpisah” dari nutrisinya juga kualitas rasa dan memasuki ruang dimana penampilan begitu diutamakan. Artinya, penciptaan tatanan visual makanan menjadi “lebih penting” tinimbang makanan itu sendiri. Visualisasi inilah yang kemudian membangun kode dalam penandaan posisi sosial.

Pada abad ke 17, ketika fotografi belum populer, masyarakat eropa memanfaatkan jasa para pelukis untuk melukis dengan tema-tema makanan. Seorang pelukis Belanda melukis tumpukan makanan lezat yang tertata rapi di atas meja. Lukisan tersebut digunakan untuk memperkuat gagasan bahwa dengan memiliki banyak makanan, maka akan memberikan penanda kekayaan sekaligus indikator kelas dan status sosial (Thompson, 2011).

Di masa serba canggih ini, memediakan makanan dengan segala unsurnya bukanlah sesuatu yang rumit, tentunya melalui perangkat kamera maupun telepon pintar. Dalam ruang siber, kita kerap menyaksikan bagaimana masyarakat siber mengunggah foto-foto makanan. Tentunya mereka tengah membangun kode atas keberadaan dirinya sekaligus (ber)upaya dalam mengonstruksi posisi dirinya. Dengan memotretnya, mereka menawarkan tanda kepada khalayak. Bukankah ketika kita mengonsumsi objek, maka kita mengonsumsi tanda yang di dalam prosesnya kita mendefinisikan diri kita sendiri? Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Baudrillard bahwa masyarakat konsumsi secara tidak langsung membangun “kepedulian” antar sesamanya. Saling respon, dan semakin sering respon itu hadir maka pemosisian diri semakin kuat sebagai seorang yang “berada”.

Dalam masyarakat konsumen yang dikontrol kode, hubungan manusia ditransformasikan dalam hubungan dengan objek, terutama konsumsi objek. Melalui objek, setiap individu dan setiap kelompok menemukan tempatnya masing-masing. Selanjutnya, melalui objek tersebut masyarakat terstratifikasi. (Baudrillard, 1981). Memotret kuliner, -atau bisa saya katakan sebagai fotografi kuliner- menjadi sebuah cara dalam membangun kode untuk kemudian dikonsumsi, dimaknai, dan dijalankan sebagai prestise.

Ketika seorang mengonsumsi makanan dengan tatanan seperti yang seperti saya utarakan sebelumnya, maka atas provokasi kode, sejatinya bukanlah makanan dalam artian kebutuhan perut belaka yang kita konsumsi, namun lebih jauh kita tengah mengonsumsi tanda. Dan tentu saja, pengambil foto (fotografer) mencoba menawarkan kelas sekaligus menikmati stratifikasinya sebagai agen yang “mengobjekan” tanda. Fotografi tidak peduli pada rasa makanan, ia hanya peduli bagaimana makanan tersebut tampil menarik dan direspon secara positif. Maka dapat diirunut lebih jauh, dalam ciptaan visual, kepentingan industri bukanlah satu—satunya alasan, namun secara politis fotografi telah menciptakan tatanan manipulasi tanda yang “seolah-olah” menawarkan kelas sosial tertentu.

Kita sama-sama menyadari bahwa fotografi memberikan konvensi atas makanan yang terlihat secara dekat dengan pola dan warna yang menarik memberikan pembeda dengan makanan pada umumnya. Seperti pernah diungkapkan Barthes bahwa secara struktural bangunan foto sangatlah sulit untuk dapat berdiri sendiri, foto membutuhkan teks sebagai pelengkap dalam membangun konstruksi yang betul-betul utuh. Dengan demikian, totalitas informasi diperantarai dan dihadirkan oleh dua bangunan struktural berbeda, dua bangunan tersebut saling bahu-membahu, subtansi berada pada kata-kata, sedang pada foto substansi dibangun melalui garis, tekstur, dan warna. Maka dapat diperjelas, bahwa teks-teks yang mendampingi foto kuliner (susunan bahan, dan cara memasak) telah memberikan dukungan penuh terhadap daya pembeda kelas. Tata letak hidangan yang kemudian mendapat sentuhan pencahayaan, dengan sudut-sudut yang mengguratkan kesan menarik membuat makanan semakin meletakan dirinya pada wilayah yang jauh dari jangkaun massa secara luas. Inilah mengapa fotografi, pada konteks ini berusaha membangun kelas penikmat kuliner.

Elle, sebuah mingguan ternama di Perancis yang hampir setiap pekan menyajikan foto-foto makanan dengan begitu menarik, menuturkan bahwasanya -sebagai produk memasak- masakan hanya ditujukan kepada mata, karena -menurutnya- pandangan adalah indra yang sangat tertata rapi dan di dalamnya terdapat kebutuhan akan keindahan.

Dengan demikian, keterampilan memasak yang didasarkan atas sentuhan dan alibi selamanya akan berusaha mengecilkan atau bahkan menutupi sifat utama bahan makanan, misalnya brutalitas daging dan lincahnya makanan laut. Hidangan pedesaan hanya dimasukan sebagai perkecualian, sebagai hasrat kampungan akan para penghuni kota yang gemerlap dengan perhiasan. Begitu kata Barthes dalam esainya yang berjudul Hidangan Ornamental.

Perlu kita garis bawahi “Hidangan pedesaan hanya dimasukan sebagai perkecualian, sebagai hasrat kampungan akan para penghuni kota yang gemerlap dengan perhiasan”. Maka tak heran jika di perkotaan tengah tumbuh pesat tempat makan dengan ruang setting pedesaan dengan ragam menu yang dianggap “ndeso”. Seperti kita ketahui bersama, tempat-tempat seperti itu kian laris manis, rela antre demi mendapatkan menu sambal, urab, atau mungkin saja sayur gori.

Hasrat Kampungan, begitulah Barthes bilang. 😀

Iklan

4 responses to “Fotografi Kuliner: Visualisasi dan Hasrat Kampungan”

  1. dibaliksorelucille says :

    nice writing!

    saya setuju dengan konsep membangun kelas penikmat kuliner lewat fotografi. apalagi jaman sekarang itu hal yang dianggap wajar dan biasa saja, tapi tidak cuma konsumen tapi juga produsen kuliner menggunakan pola yang hampir sama. Mengunggah foto makanan&minuman ke sosial media jadi hal yang (kadang) diharuskan, penanda kelas & bukti eksistensi diri bagi si konsumen, sarana promosi gratis namun efektif bagi si produsen/ penjual. 🙂

  2. rumahpentaprisma says :

    Itu ada di bukunya Barthes yang judulnya Mitologi, Mbak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: