Ruang Kota dan Fotografi

Kota sudah seperti panggung. Gemerlap penuh lampu dengan tatanan yang gempita. Kota menyediakan banyak hal, mulai arena berbelanja, arena santai, hingga arena bermain dan olah raga. Maka jangan heran jika kota menjadi tujuan “pertunjukan” sosial seseorang.

Dengan meminjam konsep Goffman, Giddens coba mengilustrasikan divergensi mendasar dalam aktivitas sosial-spasial. Jika ruang depan menyangkut bagaimana seseorang menyiapkan dirinya untuk berada di “atas panggung” dan dapat diterima secara sosial, maka di ruang belakang menjadi ruang di mana seseorang bisa lebih santai serta apa adanya dengan aturan-aturan yang lebih rileks, tanpa ada “tuntutan” secara sosial. Di ruang belakang kita tak perlu berdandan ala atlet untuk sekadar lari pagi. Tak perlu berpakaian ala model dengan kaca mata hitam untuk sekadar berjalan-jalan di emperan pertokoan, serta tak perlu berdandan rapi dan duduk manis dengan kaki menyilang untuk sekadar makan sambal terasi di rumah makan.

Kota memang selayak panggung. Di balik panggung yang megah selalu ada panggung lain untuk diperbincangkan. Selalu ada relasi dalam dua (ruang) hal tersebut, seperti argumen yang dinyatakan Massey bahwa ruang adalah suatu konstruk sosial dan berimbas pada pertanyaan tentang kekuasaan dan simbolisme, yaitu kekuasaan geometri ruang. Dan modernisme-lah yang kemudian menjadi awal bagaimana ruang kota begitu kompleks dan sensitif, dalam artian ada relasi sosial yang terkonstruksi, antara yang berkuasa atas “kepemilikan” ruang dan mereka yang “terpinggirkan”.

Dalam relasi ini hadir konstruksi kelas, gender, ras, maupun etnisitas. Studi Nzegwu (1996) tentang Lagos, Nigeria, menunjukan bahwa hasrat kultural dan representasi simbolis menempati posisi sentral dalam evolusi ruang-ruang kota sebagai pertarungan dan interaksi. Jadi, analisis ruang mengungkapkan kehadiran sistem nilai dan dampak transformatorisnya (Barker, 2009). Melalui fotografi, ruang-ruang kota coba dimedia-visualkan. Pertautan antara kota dan fotografi memiliki sejarah yang panjang. Semenjak kamera diciptakan, ruang kota menjadi ujicoba piranti ini. Niepce dan Daguerre mencoba membidik kota, Window at Le Gras (1827) karya Niepce dan Boulevard du Temple Paris (1838) karya Daguerre. Kita mengenal dua foto ini sebagai hasil “uji coba” kecanggihan fotografi untuk pertama kalinya.

Pada awal perkembangannya, kota –hanya- dimediakan dengan arsitektur sebagai kekuatan intrinsiknya. Masalah-masalah perkotaan yang kian kompleks secara tak langsung membuat materi visual kian beragam. Manusia dan kota memiliki keterhubungan yang kuat, inilah yang kemudian mengarah pada kekuasaan geometri ruang. Siapa yang berkuasa, dan atas siapa ruang tersebut berkuasa?

Orang lalu lalang di perkotaan. Kota adalah panggung, sekaligus mimpi bagi mereka. Seperti yang di katakan Tino Djumini dalam Indonesian Dreams: Reflection on society, relevation of the self tentang foto anak kecil yang berusia tujuh atau delapan tahun. Dalam fotonya yang berjudul “child”, si anak tampak bingung dengan tatapan kosong, tanpa sadar tanganya memainkan ujung kaosnya sambil menatap kamera. Ada tatapan yang dalam, ia berdiri di antara kubangan sampah sebuah kampung kumuh di Jakarta, dengan latar belakang gedung mewah bertingkat, entah bertingkat berapa. Mungkin baginya kota adalah sebuah mimpi, sebuah masa depan dengan kemegahan yang menjanjikan kemewahan.

Ada interaksi simbolik antara kota dan individu yang dimediakan. Di luar perkara teknis, foto dan kota memilki hubungan yang kuat dalam hal konstruksi sosial. Bagaimana kota beserta perniknya hampir selalu dihadirkan sebagai kekuatan latar belakang. Panggung dengan manusia sebagai aktornya. Atas dasar ruang geometris ini kita menyebut pertautan antara fotografi dan ruang kota serta sudutnya (jalan maupun lorongnya) dengan sebutan fotografi jalanan.

Dalam salah satu bagian bukunya, Tubagus Svarajati (2013) menuturkan bagaimana kehadiran foto dalam sejarah modern manusia ternyata bukan perkara visual semata, ia juga menimbulkan cara pandang baru atas realitas dan eksitensi manusia. Maka, antara kota dan fotografi menyiratkan hubungan pertunjukan, antara panggung dan dokumentasi. Sang fotografer mengambil sisi-sisi yang dianggap menarik dari panggung tersebut untuk kembali dihadirkan dalam bentuk foto.

Proses memediakan bukanlah proses mekanis belaka, bukan semata tekan shutter lalu selesai. Saya percaya, setiap fotografer memiliki “pra-referensi” dalam membidik ruang kota, ada bekal wacana. Kota memang menghadirkan ruang yang interaktif, banner-banner pertokoan seolah menjadi wicara yang politis ketika dihadapkan dengan unsur yang saling bertolak belakang, baik secara kelas maupun ideologi. Yang saya maksud adalah ketika unsur kota, seperti misalnya arsitektur begitu megah sedangkan di sisi lain ada seorang yang penuh keterbatasan hadir sebagai tokohnya. Seperti pada foto Child karya Tino Djumini.

Fotografi memang politis, ia mampu mereduksi keluguan seseorang pemotret maupun yang terpotret. Secara mekanis, fotografi telah menciptakan relasi antara fotografer dengan objek foto. Ada kesadaran memandang dan dipandang sehingga politik visual bekerja di dalamnya. Tak berlebihan, ketika Erik Prasetya mendampingi Sebastio Salgado memotret di Indonesia, dalam rangka proyek Exodus (1996) Erik mendengar orang-orang Cilincing, yang waktu itu begitu miskin, menyindir dalam bahasa jawa, “seneng, wis motret awake sing kere” (senang, sudah motret kami yang miskin) dalam sindiran itu terkandung kesadaran tentang kelas yang berbeda, barangkali juga warna kulit yang berbeda, serta pengetahuan bahwa kemiskinan memberi kenikmatan bagi kelas atas yang menontonnya. (Erik, 2015: 6).

Hadirnya fotografi membuat kota seperti panggung visual. Seperti yang saya katakan sebelumnya, ada interaksi simbolik antara manusia dan kota, ada mimpi, juga ada konstruksi, dan fotografi hadir di antaranya. Namun bukan berarti fotografi dengan serta merta menghadirkan sesuatu yang pasti dan benar. Toh, sejak kamera diarahkan ke objek foto, permainan manipulatif mulai bekerja, melalui komposisi, realitas dibentuk sedemikian rupa, pemilihan warna dan pemilihan background menjadi teramat politis.

Sebagai penutup, mengutip Tubagus Svarajati dalam Photagogos: gelap terang fotografi indonesia (2013) “apakah fotografi niscaya memproduksi kebenaran an sich? Fotografi apakah yang mengusung kebenaran dan meninggikan prinsip humanisme universal? Bukankah fotografi juga melahirkan kebenaran manipulatif jika hanya menyodorkan estetika semu?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: