Kartu Pos, yang “Eksotis” dan yang “Modern”

Sejak diketemukannya perangkat kamera, fotografi menjelma sebagai pertanda modernitas. Dalam pengantarnya, Strassler (2010) bertutur tentang bagaimana Minke “merenungkan” fotografi. Baginya, fotografi telah menjadi perlambang kehebatan jaman modern, mampu memupus ruang dan waktu, seolah-olah dunia tak lagi berjarak, dan mampu melampaui batas geografis maupun sosio-kultural. Pendeknya, dalam jaman modern ini potret sudah dapat diperbanyak sampai puluhan ribu sehari, tulis Pram dalam Bumi Manusia.

Adalah Jurrian Munnich, yang pada 1942 ditugaskkan oleh Kementrian Urusan Negeri Jajahan untuk melakukan perjalanan ke wilayah Jawa (tengah) dan membuat catatan visual (foto) mengenai pemandangan dan tanaman. Setelah Munnich, menyusul kemudian fotografer-fotografer lainnya. Entah itu dari pegawai pemerintahan ataupun perseorangan yang kemudian membuka usaha studio foto. Indonesia, atau Hindia pada waktu itu memang memiliki daya pikat bagi mereka orang Eropa (barat). Bukan hanya alamnya, tapi juga kebudayaan dan masyarakatnya. Melalui fotografi-lah, mereka berkirim catatan-catatan perjalanan.

Industri yang berkaitan dengan fotografi –salah satunya kartu pos- menjadi barang “mahal” pada waktu itu. Fotografer dengan studio fotonya bukan semata pertanda masuknya modernitas, namun juga mengindikasikan lahirnya ukuran-ukuran baru dalam hal relasi kuasa dan strata sosial. Dengan “mata baratnya”, fotografer memiliki kuasa untuk menentukan sekaligus mengkonstruksi masyarakat yang hendak dimodelkan. Mereka diarahkan sedemikian rupa sesuai pesanan (pasar).

Kunjungannya ke Indonesia pada 1998 memberikan kesan tersendiri bagi Oli –panggilan akrab-, Olivier Johannsen Raap lengkapnya. Jawa memberikan daya tarik baginya, ia bukan saja seorang pecinta sejarah, namun juga kolektor yang telaten. Ia mengumpulkan ribuan benda kuno yang berkaitan dengan Indonesia masa lampau, baik buku, dokumen, benda seni, maupun kartu pos. Pada April 2013 ia menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Pekerja di Djawa Tempo Doeloe, dan tujuh bulan setelahnya terbit buku kedua: Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe. Dua buku ini berisikan kartu pos yang dengan telaten ia kategorikan dengan disertai narasi yang menarik.

Olivier Johannes Raap dalam Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe merangkum serta menarasikan lebih dari 100 kartu pos. Oli mengkategorikan kartu pos dalam 10 kategori. Kesepuluh kategori tersebut yakni Cantik dan Tampan, Pernikahan, Keluarga Bahagia, Anak dan pendidikan, Si Kaya dan Si Miskin, Kesenian, Perayaan, Permainan, Manusia dan Hewan, dan Pemakaman. Dari kesepuluh kategori ini kita disuguhi foto-foto masyarakat jawa tempo dulu, baik di dalam studio maupun luar studio.

Kartu pos generasi pertama di Indonesia diterbitkan tahun 1874 oleh pos negara, pemerintah Hindia Belanda. Ukurannya 9×12 cm. Awalnya kartu pos tidak dilengkapi gambar, satu sisi kosong digunakan untuk menulis surat, sementara baliknya dipakai untuk menulis alamat penerima dengan perangko yang telah tercetak (Raap, hlm. x).

Kartu-kartu pos itu pun melintasi benua, lewat tangan para pembeli yang mengirimkan ke keluarga dan teman. Melalui kartu pos, selain berkirim kabar, mereka juga menunjukkan citra kehidupan eksotis yang tidak ditemui di negeri mereka sendiri. Dan kartu pos yang dibeli menjadi barang koleksi atau kenang-kenangan. Para penerbit kartu pos, yang sangat memahami keinginan para pelanggan, menerbitkan aneka ragam kartu pos bernuansa etnik. Gambar yang sering digunakan adalah sosok pribumi lengkap dengan pakaian khas tradisional, orang Tionghoa, dan kadang etnis lain (Raap, hlm. xii)

Dalam prakatanya, Oli menuliskan “Dilihat dari temanya, tentu buku ini harus diklasifikasikan sebagai buku sejarah, namun bukan buku sejarah biasa. Kebanyakan buku sejarah yang membahas indonesia awal 1900-an lebih terfokus ke sejarah sebuah kota, politik, dan kolonialisme;tidak halnya dengan buku ini”. Tentunya pernyataan ini mengundang tanya lebih jauh, bukankah objek-objek visual yang terkandung dalam kartu pos merupakan bentuk konstruksi visual yang mengindikasikan hadirnya “liyan”. Bukankah kolonialisme telah memproduksi pengetahuan dan beredar di Eropa sana? Hindia dengan masyarakat dan alamnya yang “eksotis”. Kemenarikan yang divisualkan, bahkan tentang keluguan dan kemiskinan yang dikonstruksi untuk dijadikan souvenir bagi sanak keluarga di sana.

Dalam fotografi hadir relasi tak setara antara fotografer dengan objek fotonya. Dalam konteks ini, foto dalam kartu pos menjadi perwujudan dihadirkanya liyan. Bagaimana fotografer mengkonstruksi objek, bagaimana barat membangun pemahaman dan mengkonstruksikan timur dengan keeksotisannya melalui busana serta identitasnya. Menyitir apa yang diutarakan oleh Said, bahwasanya “Oleh Barat, Timur dianggap sebagai “kawasan nun jauh di sana, yang eksotik, yang feminin, yang penuh romansa, kenangan, imaji-imaji, dan janji-janji yang kemudian mengarahkan pada pemaknaan superiotas barat terhadap timur yang di dalamnya terdapat relasi kekuasaan, dominasi, dan hegemoni yang kompleks (2010). Dan betapa mempesonanya timur, fotografi telah menjadi medium “mencatat”, serta alat mengkonstruksi timur.

Said, melalui orientalismenya menuturkan bahwa di Eropa, istilah timur sudah lazim digunakan untuk menyebut kata-kata seperti kepribadian timur, suasana timur, kisah-kisah timur, despotisme timur, atau cara produksi timur. Orang eropa sudah mengerti bahwa timur merupakan kawasan yang memiliki keeksotisan baik manusianya, budayanya, maupun alamnya.

Selain menampilkan “keluguan” dan “keeksotisan”, fotografi kolonial juga menawarkan mimpi akan gambaran manusia modern. Tak heran jika studio-studio foto pada beberapa kartu pos yang ditampilkan Oli dilengkapi dengan latar belakang layar yang dilukis pemandangan indah dan arsitektur yang modern. Juga dilengkapi dengan perabotan tambahan seperti karpet dan mebel sebagai ciri modernitas. Terhitung lebih banyak banyak foto model perempuan daripada laki-laki. Jarang sekali laki-laki dipotret sebagai model. Mereka biasanya diabadikan karena status atau pekerjaannya, sedangkan model perempuan dipotret karena kecantikannya. Pasalnya, kartu pos bertema gadis cantik banyak dikoleksi saat itu. (hlm:xv)

Melalui kartu pos, foto-foto yang ditampilkan dibuat semenarik mungkin. Di beberapa bagian, perempuan-perempuan Jawa dikonstruksi melalui pakaian yang telah di “modernkan”. Dalam artian mereka “didandani” dengan atribut-atribut “barat”. Tentu saja “pemodern-nan” ini adalah cara-cara barat dalam membangun relasi kuasa tak setara. Mereka yang timur “dipermak” agar “menjadi” barat yang dikesankan lebih modern. Tengok saja misalnya dalam foto “Nyonya Jawa” (hlm. 6). Perempuan Jawa yang berusia kurang lebih 20-tahunan berpose santai duduk di Chaise Longue, semacam sofa gaya Perancis. Serta memakai perhiasan dengan kalung besar bergaya Art Nouveau. Di halaman berikutnya kita bisa menemui perempuan berpose dengan hiasan dan aksesori yang menawan juga rambut yang disanggul dan dipasangi sirkam (sisir hias). Foto ini diambil pada tahun 1910 dengan judul “Wanita Jawa yang cantik.”

Foto-foto dalam buku ini menjadi catatan yang menarik mengenai kartu pos. Selain sebagai praktik-praktik “penguasaan” kolonial secara visual, foto-foto tersebut juga menjadi promosi kebudayaan, melalui kategori kesenian yang berisi foto-foto gamelan, pertunjukan tari, wayang, jatilan, ondel-ondel juga keroncong.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: