Foto yang dibicarakan, Teks, dan Fakta Sosial

Apakah foto bisa benar-benar berbicara? Tentu jawabnya akan sangat beragam. Dengan alasan yang beragam pula. Jika kemudian ada yang berujar bahwa foto adalah “momen (waktu) yang dibekukan” tentu saja tidak salah. Dan jika ada yang berpendapat bahwa foto dengan sudut pengambilan, komposisi, dan Point of Interest tertentu sudah mampu berbicara banyak, sah-sah saja. Serta jika ada yang mengatakan bahwa tak ada foto yang benar-benar bisa berbicara, objek diam, hanya analogon realitas yang beku, tak bisa berbicara namun bisa dibicarakan, juga tentunya boleh-boleh saja.

Namun, terlepas dari –permainan- metafora tersebut, fotografi –menyitir pendapat Seno Gumira Ajidarma- adalah sebuah proses yang dihidupkan oleh waktu. Tindakan memotret disebut sebagai tindakan mengabadikan, bukan dalam arti bahwa waktu terbekukan dalam foto, melainkan bahwa waktu akan menghidupkan foto tersebut dari saat ke saat, dan penafsiran ini akan terus menghidupkan foto dengan pergeseran makna-makna dalam perjalanan waktu. Secara sederhana, penafsiran sebuah foto tidak bisa dilepaskan dari keberadaan ruang dan waktu. Terlepas dari “aturan” teknis, serumit dan sesederhana apapun, foto selalu bisa dibicarakan, bahkan pas foto yang kerap digunakan dalam urusan administratif sekalipun, KTP misalnya.  Bukankah teknik bukan satu-satunya syarat dalam membangun sebuah foto, teknik “hanya” salah satu jalan. Ibarat memasak, teknik adalah bumbunya, tapi yang kemudian melahirkan cita rasa adalah cara mengolahnya. Anda mungkin paham bahwa “cara mengolah” menjadi semacam isyarat sosial, selera juga motif kepentingan. Artinya, sensitivitas seorang fotografer dalam mendapatkan objek foto sangat berpengaruh.

Di antara ribuan karya foto  dalam khasanah sejarah foto Indonesia, foto “Air Mata Emas” karya Kartono Ryadi (KR) mungkin bisa menjadi salah satu contoh yang menarik dalam membincang mengenai sensitivitas dalam fotografi, maupun fakta sosial yang mampu membangun daya pikat sebuah foto.

Pada gelaran Olimpiade 1992 di Barcelona, di Pavello de la Mar Bella, Susi Susanti berhasil meraih medali emas dengan mengalahkan wakil Korea Selatan di partai final, Bang Soo Hyun. Dengan rasa percaya diri, penuh kebanggan, Susi naik ke atas podium diringi tepuk tangan ribuan penonton, lebih tinggi diban

ding dua kompetitornya (Huang Hua dan Bang Soo Hyun). Begitu Indonesia Raya berkumandang, Susi tak mampu menahan haru, ia tak sanggup menahan air matanya. Momen inilah yang berhasil diabadikan oleh Kartono Ryadi.

Dan kita mengenal momen tersebut –dalam catatan sejarah fotografi indonesia- sebagai “Air Mata Emas”. Karya Kartono Ryadi ini kemudian menjadi hedaline di Harian Kompas, hampir separuh halaman.

DSC_8858

Foto diambil dari buku Fotobiografi Kartono Ryadi;Pendobrak Fotografi Jurnalistik Modern Indonesia (2011)

Melalui Air Mata Emas, kita seperti disuguhi gambaran mengenai gairah, juga mengenai kebahagiaan. KR berhasil mengkombinasikan materi visual yang pada akhirnya mampu membangun penceritaan yang utuh. Secara komposisi, foto ini terlihat sederhana, tapi terjebak pada perkara teknis nan estetis tentu saja bukan satu-satunya tujuan dalam fotografi. Teringat pada salah satu tulisan dalam Photagogos; Terang-Gelap Fotografi Indonesia karya Tubagus Svarajati (2013) “Lantas, jika perkara teknik menjadi tujuannya, yang kemudian melahirkan genre salon, misalnya, tentu saja muncul kegamangan dan kecurigaan dari sana: sebenarnya capaian apa yang hendak diraih dari maksimalisasi teknik fotografi itu? Bukankah teknik sekadar alat bantu mengungkapkan gagasan, pesan, dan makna ke bentuk rupa yang kemudian bisa diartikulasikan sebagai suatu bahasa-bahasa visual, sehingga ia pun layak diperlakukan sebagai sebuah teks? (2013:25).

Ya, sebagai sebuah teks, kita bisa mengurai materi visual dalam foto dengan ragam perspektif. Melihat unsur-unsur pembangunnya, baik instrinsik maupun ekstrinsik. Dan dalam beberapa hal, yang kemudian membuat foto itu begitu berdaya dan dibicarakan adalah ada pada fakta sosial di belakang bangunan (materi visual) foto tersebut.   Yang saya maksud fakta sosial adalah bagiamana foto secara sosial berkaitan dengan kode-kode sosial yang ada dalam masyarakat, baik mengenai relasi (kuasa), representasi, maupun identitas, sehingga mampu memberikan impresi yang kuat bagi para pembaca foto. Ada gairah yang sama dari apa yang dilihat, dan tentu saja atas apa yang dilihatnya mampu menggerakan hati para pembaca foto.

Ada beberapa materi visual yang nampak dalam foto Air Mata Emas; bunga, jaket, serta air mata tentunya. Secara porsi, air mata kalah nampak jika dibandingkan dengan jaket maupun bunga dalam genggaman tangan Susi, namun melalui teks (judul dan keterangan foto) telah mampu menggiring pembaca ke materi yang lebih greget. Sebenarnya, dalam peristiwa ini ada banyak materi visual yang bisa ditonjolkan dan diberdayakan sebagai point of interest, namun KR (Kartono Ryadi) -dalam hal ini- lebih memilih untuk membidik “air mata” di saat (waktu) Indonesia Raya berkumandang. Pilihan yang tepat dan memikat tentunya.

Pemandang foto bukanlah seorang yang lugu tanpa referensi apa-apa. Saya yakin betul, bahwa siapapun, sebagai pemandang atau lebih pas saya sebut sebagai pembaca foto memiliki referensi pandangan atas kejadian-kejadaian yang lain yang berhubungan dengan materi visual yang dilihat pada saat itu, sekecil apapun materi tersebut. Pembaca akan mengaitkan dengan materi yang pernah dilihat sebelumnya.

Bulu tangkis dalam ajang Olimpiade bukan sekadar permainan, bukan sekadar ajang senang-senang, ada prestise, ada tanggung jawab yang melekat. Susi bukan saja berjuang bagi dirinya sendiri sebagai seorang atlet, namun juga sebagai perwakilan sebuah bangsa. Maka ketika Susi menutup set ketiga dengan skor 11-3 semuanya bersuka cita. Susi menang, Indonesia unggul. Melalui foto tersebut kita membaca keharuan dan kebanggan dari air mata (emas) Susi Susanti.

Tanpa adanya keterangan foto, dan judul yang kemudian menjadi “merek”  foto tersebut, tentunya foto tersebut akan kehilangan jiwanya. Dalam contoh ini, tekslah yang kemudian menghidupakan visual. Ia menjadi bermakna, berada, dan terarah. Roland Barthes menuturkan bahwa peran kata terhadap gambar amatlah penting, ia menggunakan istilah pengait/jangkar ( achorage) untuk menggambarkan fungsi kata-kata untuk menjadi narasi. Barthes berpendapat bahwa gambar visual bersifat polisemi dan kata-kata membantu “menetapkan” atau dengan kata lain mengarahkan terhadap pembacaan. Inilah yang kemudian oleh Stuart Hall (1973) disebut sebagai “a preferred reading”.

Foto kemenangan Susi Susanti (Air Mata Emas), bisa dijadikan contoh bagaimana hubungan antara teks dan visual bersifat resiprokal, keduanya saling terikat juga saling mendukung dalam pembentukan makna. Selain judul, keberadaan keterangan foto (caption) juga tak kalah penting, ia bukan saja akan berdaya dalam memberikan pengarahan, namun juga mampu membangun konstruksi, karena tekslah yang kemudian memunculkan/melengkapi informasi mengenai fakta-fakta (sosial) yang tidak muncul dalam sebuah foto.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: